Senin, 12 November 2007

Mengungkap Bisnis PSK Impor Berkedok Hotel Berbintang


Mengungkap Bisnis PSK Impor Berkedok Hotel Berbintang

Meski sering diberantas, bisnis prostitusi tetap saja marak. Mulai dari kelas abal-abal sampai high class. Dari yang terselubung, hingga terang-terangan. Bahkan kini banyak salon maupun hotel yang telah berubah fungsi. Salah satunya adalah sebuah Hotel A yang berada di kawasan Ancol. Setelah ditelusuri, hotel yang dimiliki oleh pengusaha non pribumi itu ternyata di setiap lantainya menyediakan layanan pemuas birahi. Dengan menyajikan wanita-wanita tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari negara-negara lain seperti Uzbekistan, Taiwan, Philipina, dan China, praktek prostitusi kelas atas itu dengan legalnya beroperasi. Berikut penelusuran tim Realita.

Kehidupan malam di DKI Jakarta pasca Lebaran mulai menggeliat dan hidup kembali sejak dua minggu lalu. Sejumlah diskotek dan pub di Jakarta tampak ramai dikunjungi setelah lebih dari satu bulan ditutup. Meski petugas berulang kali melakukan razia terhadap pekerja seks komersial (PSK) asal China, Uzbekistan, Vietnam, dan negara lainnya, namun cungkok atau amoy-amoy tetap saja membanjiri kawasan tempat hiburan di Jakarta.

Tengok saja salah satu tempat hiburan di wilayah Kota, Jakarta Barat dan Jakarta utara. Banyak cungkok (PSK impor) tersedia dengan tarif antara Rp 1 juta (untuk PSK Asia) hingga Rp 2,5 juta (untuk PSK Eropa) untuk sekali kencan (short time). Meski mereka sempat dikarantina di kantor Dirjen Imigrasi, Jakarta Selatan, sebelum dipulangkan ke negeri asalnya, namun sepertinya mereka tidak ada habisnya. Operasi yang telah dilakukan nampaknya tidak pernah membuat mereka jera. Nyatanya, setelah operasi itu, petugas berkali-kali mendapati adanya wanita asing yang menjadi wanita penghibur di dunia malam Jakarta. Biasanya para wanita-wanita asing ini mula-mula datang untuk dipekerjakan sebagai pemandu lagu di tempat karaoke dengan gaji Rp 500.000/malam. Namun kemudian selain memandu lagu, tentu saja mereka juga bisa dinego untuk memberikan layanan “plus”.

Berlindung di Hotel Berkelas. Menurut Ridwan (37) (nama samaran, red), seorang mantan germo, maraknya cungkok atau PSK impor dari Vietnam, Uzbekistan, dan negara bagian Eropa lainnya di Indonesia sudah berlangsung lama. Mereka biasanya berlindung di panti-panti pijat ataupun hotel berkelas. Kedatangan mereka tentu saja dikarenakan faktor ekonomi. “Karena di sana itu kebanyakan negara miskin dan bermata pencaharian sebagai petani. Meskipun di sana dia jadi pelacur, pasti harganya pun murah. Mungkin karena itulah mereka berbondong-bondong ke Indonesia untuk bekerja,” paparnya.

Dari sekian Negara asala PSKI impor, tak bisa dipungkiri PSK asing asal Uzbekistan terbilang sangat laku untuk diperdagangkan. Selain fisiknya yang hampir sempurna, mereka mempunyai daya tarik tersendiri dibanding cungkok-cungkok asal China maupun negara lainnya. “Kedatangan mereka biasanya terkoordinir dan biasanya ada agent-nya,” tambah Ridwan.

Biasanya, tempat-tempat yang menyediakan PSK impor juga menyuguhkan menu-menu import dan hiburan lainnya seperti sauna, massage, dan lain sebagainya atau disebut juga dengan one stop entertainment. “Dengan konsep one stop entertainment kita bisa mendapatkan segalanya. Mulai dari sekadar minum, ngobrol sampai ‘main’ dengan cewek yang kita pilih,” ujarnya. Di Jakarta, untuk mencari hiburan semacam ini sangat mudah dan banyak sekali. Tergantung berapa budget yang kita miliki.

Sebut saja di Hotel A yang terletak di kawasan Lodan, Ancol. Selain bisa dijadikan tempat untuk menginap, banyak orang yang juga memanfaatkannya sebagai tempat untuk melepas hasrat seks-nya. Hotel yang berlantai 7 ini termasuk hotel berbintang. Tak jarang orang yang berkunjung pun orang yang berkelas pula. “Bisa dibilang sih para eksekutif muda, pengusaha, dan orang berduit yang kebanyakan datang. Lihat saja mobilnya, semuanya sedan mewah,” kata salah seorang pemuda di sudut jalan tempat parkir.

Saat Realita menyambangi hotel ini, jarum jam tepat menunjukkan pukul 22.55 WIB. Hotel ini memang terbilang cukup ramai dikunjungi setiap harinya. Terlebih pada Jumat malam, Sabtu malam dan Minggu malam atau hari libur lainnya. Pada saat itu, tempat parkir hotel sangat penuh sehingga banyak mobil yang parkir di sisi-sisi hotel. Bahkan parkir ruko di sekitar lokasi juga terlihat penuh. Melihat jenis kendaraan yang datang, umumnya mereka berasal dari golongan kelas ekonomi menengah ke atas.

Saat Realita memasuki lobi hotel, suasananya terkesan biasa-biasa saja. Bahkan letaknya yang berada di antara ruko-ruko, tidak mengesankan kalau hotel ini banyak dikunjungi oleh kalangan berduit. Yang agak terasa lain adalah para penjaga keamanan hotel ini yang semuanya berpakaian safari. Sehingga ada kesan, para pengunjung hotel tersebut mendapatkan pengamanan yang ekstra ketat.

Dari lobi hotel, para pengunjung yang berniat mencari hiburan, bisa memilih untuk berkaraoke di lantai 5 dan diskotek di lantai dasar. Atau pijat dan sauna di lantai 7, yang setiap malamnya menyuguhkan pertunjukan seksi dancer. Para pengunjung yang ingin ke lantai 7 biasanya menggunakan lift hingga lantai 6. Di lantai 6 ini ada semacam konter dan kasir yang dijaga sejumlah lelaki tegap dan gadis-gadis cantik. Jika pengunjung dari lantai 6 ingin naik ke lantai 7, kepada mereka akan diberikan gelang-gelang yang ada nomornya.

Setelah mendapatkan gelang, pengunjung dipersilahkan naik ke lantai 7 melewati tangga. Memasuki lantai 7, pengunjung akan disuguhi PSK impor seperti dari China, Uzbekistan, Vietnam, Thailand, Taiwan, dan ada juga wanita-wanita lokal yang dipajang duduk di sofa. Di lantai 7 ini terdapat bar serta kolam air panas dan dingin berukuran besar yang diatasnya ada tempat DJ memainkan musik serta air terjun buatan.

Banyak pengunjung yang mendengarkan musik dengan berendam di kolam air panas, sambil dipijat cungkok pilihannya. Namun ada pula yang berbaring di pinggir kolam sambil tiduran di kursi malas. Untuk yang tiduran di kursi malas, biasanya dihibur dengan tarian gadis cantik yang hanya mengenakan bra dan celana dalam. Tamu bisa juga memesan makanan kecil dan minuman sambil ngobrol di saung-saung atau bar. Desain yang menarik membuat para pengunjung betah dan merasa seperti di surga. Tak heran mereka berani menghabiskan waktu berlama-lama di kolam hingga 2-3 jam. “Suasananya enak dan benar-benar bisa bikin relaks. Selain bisa melihat seksi dance di kolam, juga ada iringan musiknya dari DJ dan kita melihatnya bisa sambil dipijat oleh wanita yang sesuai,” aku salah satu pengunjung.

Ladies Company. Menurut salah satu karyawan hotel, cewek-cewek PSK di hotel tersebut biasa disebut sebagai ladies company atau LC. “Itu Raiya salah seorang agennya. Mereka berasal dari Uzbekistan. Di sini ada juga cewek Thailand, Vietnam, dan cungkok dari China. Ada juga yang lokal. Terserah Anda, mau yang impor atau lokal," kata seorang pelayan di ruangan itu. Sebutan LC sebenarnya sama dengan pramuria atau PSK, sedangkan agen tak lain mami alias germo.

Di tempat hiburan itu terdapat belasan wanita muda asal Uzbekistan, China, Thailand, dan Vietnam. PSK asal Uzbekistan rata-rata memasang tarif Rp 1,5 juta untuk sekali kencan singkat. Sementara tarif PSK asal negara Asia Timur rata-rata Rp 1 juta. Adapun PSK lokal memasang banderol Rp 800.000. Gadis-gadis LC tersebut berbaur dengan pengunjung, dan umumnya mengenakan pakaian serba mini. Bahkan, beberapa di antaranya tak mengenakan baju, kecuali bra dengan rok transparan.

Para lelaki yang mencari kepuasan seks ini, biasnya usai dibilas setelah berendam di kolam, mereka bisa ke kamar di lantai 6 atau hanya duduk-duduk di sofa sambil menikmati minuman sambil menyaksikan tarian telanjang di balik tirai transparan di dekat kolam.

Di kawasan Jakarta Utara, Hotel A memang salah satu tempat hiburan yang selalu ramai dikunjungi. Layanan-layanan seperti mandi uap atau sauna, panti pijat, dan diskotek, biasanya paling banyak diserbu. Dan biasanya paling ramai pada Jumat malam.

Selain di lantai 7, dalam ruangan diskotek pun pengelola menyediakan PSK. Beberapa orang "mami" menawari pengunjung laki-laki yang memasuki ruangan diskotek. PSK juga dijumpai di lokasi pertunjukan musik hidup di lantai lain, yang sekaligus menyediakan kamar-kamar layanan kencan singkat. Sebuah televisi ukuran 28 inchi tergantung di ruangan seluas 5×6 meter persegi itu menampilkan adegan seorang perempuan berwajah oriental dan berpakaian seksi menggoyang-goyangkan badan mengikuti dentuman irama house music. Sesekali, tangan kanan wanita itu menjangkau benda seperti cakram pada meja di setinggi perut. Sekilas, aksi wanita itu seperti aksi seorang disc jokey (DJ) yang tengah meracik musik untuk menghangatkan lantai disko. Beberapa menit, gambar beralih ke wanita lain yang juga berwajah oriental dan berpakaian seksi. Wanita yang tampak lebih muda itu juga beraksi mirip DJ. “Ngapain sih wanita-wanita itu, musik dan gerakannya nggak nyambung,” celetuk salah satu pria di ruangan. “Ssst, cewek-cewek itu lagi ditawarkan. Mereka cungkok, asli dari China. Lu mau?” bisik pria di sebelahnya. Dia pun menjelaskan, bahwa wanita-wanita berwajah oriental yang “ditawarkan” lewat saluran televisi internal itu dijamin benar-benar didatangkan dari China. Penawaran cungkok lewat saluran televisi internal itu bisa dijumpai di ruangan-ruangan karaoke. Sejumlah tempat hiburan malam lainnya juga menawarkan cungkok dengan cara serupa, meski ada juga yang dengan cara “tradisional” yakni dari mulut ke telinga.

Menurut salah seorang agen, PSK dari China adalah yang paling banyak dicari karena harganya lebih terjangkau dibanding dari Negara Eropa. Semua PSK yang menemani tamu di ruang musik hidup ini siap melayani laki-laki hidung belang. Mereka yang sudah biasa bekerja seperti itu lebih aktif mendatangi pengunjung yang duduk di bangku-bangku sambil mendengarkan musik.

Di antara para PSKitu, ada PSK lokal sebut saja namanya Tiya (17) yang malam itu terlihat malu dan kikuk. Dia berbicara seperlunya dan itu pun kalau diajak bicara. “Saya mulai kerja di sini baru tiga bulan lalu," katanya. Gadis asal Bandung itu mengaku masih takut melayani tamu. Sebenarnya dia diajak oleh seorang mami yang menawarkan untuk bekerja sebagai pelayan minuman, bukan pekerja seks. Namun, dia kini sudah mulai mengerti tentang "dunia lain" itu meski tetap canggung. “Sebenarnya sih nggak mau, tapi karena saya butuh uang untuk bayar hutang dan kebutuhan sehari-hari, yah terpaksa deh seperti ini,” tuturnya.

Hotel Daerah Gajah Mada. Tak hanya di hotel A saja melainkan hotel M di daerah Gajah Mada dan beberapa hotel di bilangan Jakarta utara juga menyediakan menu-menu serupa. Cewek-cewek import tersebut di sebar kebeberapa hotel tersebut. “Yang punya hotel juga sama mas. Jadi jangan heran kalau ketemu seperti ini di hotel lain,” tambahnya.

Memang hampir kebanyakan pengelola tempat-tempat hiburan itu adalah orang-orang China atau Korea. Mereka tak hanya memiliki satu bahkan ada yang punya tiga sampai lima tempat hiburan yang menyuguhkan cewek-cewek import. Hotel M juga termasuk tempat yang ramai dikunjungi para pecinta wanita.

Untuk harga cewek-cewek di hotel M relatif lebih murah dibandingkan hotel A. Untuk PSK lokal tarifnya sekitar Rp 350.000 dan untuk cewek impor sekitar Rp 800.000 – Rp 2.500.000 untuk kencan short time. “Kalau dari China sekitar Rp 800 ribu dan kalau yang Uzbekistan bisa sampai Rp 2.5 juta,” aku salah satu mami.

Adapun lantai dasar di hotel M digunakan untuk sauna, berendam air panas dan dingin. Pada jam-jam tertentu ada pertunjukan seksi dance di balik air terjun buatan. “Di kolam kita nggak bisa ditemani sama cewek-ceweknya. Hanya menonton tarian saja,” terang salah seorang pegawai. Namun untuk ruangannya, lebih kecil jika dibandingkan dengan hotel A.

Naik ke lantai 2 di Hotel M di Jln Gadjah Mada tersebut terdapat sebuah bar dan lounge. Untuk menuju ke sana kita harus menaiki beberapa anak tangga. Sambil berjalan, terlihat beberapa wanita-wanita cantik dengan pakaian yang serba minim berlalu lalang. Selain bisa memesan minum, juga dapat memesan wanita-wanita tersebut. “Kalau nggak ada yang selera, bisa ditukar kok. Stok kita banyak,” ujar mami.

Hentakan musik yang bergitu keras membuat para pengunjung dan para pecinta lantai dansa ikut bergoyang. “Di sini ada pertunjukkan striptise setiap malam,” tambah sang mami. Untuk tarian-tarian erotis, terdapat juga istilah Flying Bra Girls. Kita melihat sajian tersebut sambil ditemani wanita dan sebotol minuman. Selain menari, mereka juga berjalan ke setiap pengunjung untuk melakukan Tequila Body Kissing. “Kalau nggak mau juga nggak apa-apa,” ujarnya. Satu sloki tequila yang diminum, dihargai sekitar Rp 200 ribu. Tarian ini bisa disaksikan sekitar pukul 23.00 dan 01.00WIB.

Pertunjukan ini sendiri dimulai ketika lampu penerangan berubah menjadi redup. Sepasang gadis belia berpakaian lengkap mulai menari-nari erotis di atas meja. Selanjutnya, satu persatu mereka menanggalkan pakaian, yang pada akhirnya, benar-benar terlihat bugil. Tarian yang mereka bawakan tidak lebih dari gambaran bagaimana dua anak manusia tengah melakukan aktivitas seksual. Bagi mereka yang ingin memenuhi hasratnya tinggal memanggil ‘Mami’. Biasanya, para PSK impor diminta berbaris di hadapan lelaki yang berminat. Untuk cungkok dari China, ‘Mami’ mematok tarif Rp 1,5 juta. Sedangkan pelacur kulit putih Rp 2 juta. Jika tercapai kesepatakatan tarif kencan, tamu bisa membawa cungkok ke kamar.

Sebagai tempat hiburan kelas atas tentu saja kondisi kamar yang diberikan cukup nyaman, hampir seperti kamar hotel bintang 5. Bersih dan tertata rapi.

Dalam penelusuran Realita di hotel M di daerah kota tersebut, Realita bertemu dengan seorang perempuan China bernama Mei Ling (25). "Ni hao," jawabnya saat disapa dalam bahasa Mandarin. Perempuan berusia 25 tahun itu semula bercakap, bergurau dengan santai sambil memijit refleksi. Namun, suasana berubah ketika ditanya asal-muasal kedatangan dan apakah dia bisa pergi menemani keluar. Dari mulut Mei Ling, ia mengaku bahawa ia sudah “dibeli” oleh germo. Dengan demikian, kalau Ada yang mau mengajak dia keluar dan dipelihara secara pribadi, ia meminta orang tersebut menebus dirinya sebesar 3.000 dollar AS.

Berbeda dengan Zeen (29), asal Uzbekistan. Hanya bermodal keberanian, dirinya terpaksa ikut ke Indonesia karena ajakan teman. Baru sekitar tiga bulan ia berada di Indonesia. Izin tinggal Zeen di Indonesia adalah sebagai pekerja. Alasan Zeen menjalni profesi PSK di Indonesia, karena keluarganya disana hanya berprofesi sebagai petani. Untuk menghasilkan uang yang banyak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga, ia harus ekstra bekerja keras. Namun di Indonesia ia bisa mendaptkan uang dengan cara mudah. “Uang dari sini saya kirim untuk membantu orang tua di sana. Di sini saya bisa dapat sekitar Rp 5 juta semalam,” paparnya wanita yang memiliki 3 orang adik ini.

Ironis memang bangsa Indonesia yang konon memiliki beradapan dan nilai-nilai moralitas yang masih tinggi ini, kini sudah dihancurkan dan dirusak oleh kepentingan bisnis kotor, baik melalui bisnis Narkoba maupun bisnis sahwat atau pemuas nafsu dari para PSK impor yang berkeliaran di Indonesia dengan tameng sebagai model, atau pekerja informal lainnya. Dan sedihnya yang menjadi pelaku usaha atau memiliki tempat usaha itu ternyata bukan warga Negara Indonesia, artinya disadari atau tidak, bangsa dan anak-anak kita ini moralnya sudah di rusak oleh orang asing yang mencari makan di negeri tercinta ini.

Ah… betapa hancurnya ibu pertiwi kita dan betapa meraungnya para pahlawan yang telah membebaskan ibu Pertiwi dari tangan para penjajah, menyaksikan bangsanya yang di porak-porandakan oleh manusia yang tidak punya berdapaan. Lalu siapa yang akan membebaskan negeri ini dari cengkeraman para germo yang hanya berfikir uang , uang dan uang????Doel, Ardi

SIDE BAR I

Moammar Emka, Penulis Buku Jakarta Undercover

Mereka Akan Tetap Ada Seiring Perkembangan Zaman

Bisnis prostitusi bukan lagi dilokalisasi-lokalisasi seperti di tempat-tempat kumuh. Kramat Tunggak di Jakarta misalnya yang sudah menjadi sebuah industri. Layaknya industri, bisnis ini juga semakin hari semakin berkembang dan variatif dalam menyuguhkan menu-menu kepada konsumen. “Kalau dulu mungkin hanya tukang pijat saja, tapi kini sudah dilengkapi dengan berbagi menu, seperti, sauna, seksi dancer, striptise dan macam-macam,” bebernya.

Selain menambah variasi kepada pengunjung, biasanya cewek yang disuguhkan bukan lagi cewek lokal, melainkan cewek impor, seperti dari Uzbekistan.

Sebagai orang yang mengamati dunia malam, Emka yang akrab disapa ini juga memandang, bahwa ke depan bisnis ini akan semakin terus berkembang dan berani menampakan ke publik. Hal ini terjadi karena bisnis ini adalah bisnis yang paling mudah untuk mencari uang. “Sebenarnya bisnis ini intinya jualan perempuan, hanya saja karena kondisi zaman semakin maju maka ditambah dengan unsur entertaint-nya biar lebih hidup,” tukasnya.

Menu-menu yang ditawarkan pun beragam seperti, Seks Helikopter, Super Waxing Bikini Area, Suite Salome, Sex Locker Room, Body V, Spanish Girls 4 One Night Stand, Harem Sauna Basah, Tequila Body Kissing, Flying Bra Girls, Quicky Sex Party, Bunny Girls Face off, Bathhouse for sex Party sampai fenomena pesta seks hare gene. Semua itu mereka lakukan hanya sekadar mengejar (syukur-syukur bisa) go international, mendapat job istimewa, dan meraih uang yang banyak.

Boleh percaya boleh tidak, sejumlah model yang ditulis Emka dalam bukunya adalah mereka yang berstatus sebagai foto model, model catwalk, model escort, model iklan, dan terakhir model sinetron. Kelasnya, mulai dari supermodel, model kelas satu, kelas dua sampai model “jadi-jadian” alias menggunakan status model sebagai topeng untuk kepentingan branding. “Kadang yang dari Uzbekistan pun datang dan dimasukkan agensi seperti itu,” akunya. Tak heran, bagi pria asal Tuban yang selalu mengamati fenomena ini, kehidupan pribadi, apa pun itu bentuknya, hitam atau putih, tak akan mengubah citra mereka sebagai penghibur dengan sinarnya yang selalu cemerlang di langit gelap. Mereka tetap mempesona, tetap indah dan menawan untuk dilihat.

PSK juga manusia yang berhak memilih jalan kehidupannya sendiri. Tapi sangat mungkin menangis ketika termenung seorang diri di dalam kamar, atau malah sebaliknya. ”Ini bukan justifikasi, melainkan lebih sebagai persepsi. Biarkan masing-masing kepala punya penafsiran sendiri,” tutupnya. Ardi, Doel