Selasa, 17 Juni 2008

In Memoriam Ali Sadikin

Alm. Ali Sadikin, Mantan Gubernur DKI Jakarta

Disaat Kritisnya Masih Memikirkan Biaya Pendidikan yang Makin Tinggi dan Harga Bahan Pokok yang Terus Melambung

Kota Jakarta empat puluh dua tahun silam adalah sebuah kota yang amburadul dan kumuh. Sejak Ali Sadikin memerintah kota Jakarta, ia sulap menjadi kota yang modern dengan berbagai fasilitasnya. Tak heran, kalau Ali Sadikin selalu dikenang warga Jakarta berkat kesuksesannya itu. Kota Jakarta bagi Ali Sadikin sudah seperti jiwa dan raganya. Setelah lengser dari Gubernur, Ali Sadikin juga tetap membangun Jakarta lewat pemikirannya. Bahkan di saat-saat ia sakit menjelang kematiannya, ia tetap memikirkan Jakarta dan negaranya. Lalu seperti apakah sosok Ali Sadikin?

Jum’at (23/5) selepas adzan Maghrib Realita mendatangi rumah (alm.) Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta. Berbagai karangan bunga dari beberapa pejabat negara, tokoh politik, dan masyarakat yang menandakan rasa berduka cita, masih tersusun rapi di sepanjang Jalan Borobudur 2 Jakarta Pusat. Dari ucapan bela sungkawa yang tertera pada karangan bunga itu, menandakan bahwa sepanjang hayatnya, baik saat menjadi Gubernur maupun setelah lengser, Ali Sadikin merupakan figur yang patut diteladani.

Bukan hanya keluarga saja yang merasa kehilangan dan berduka dengan kepergian Ali Sadikin, warga Jakarta dan masyarakat Indonesia juga kehilangan tokoh bangsa yang visioner ini. Ratusan warga baik orang biasa dan pejabat yang mengikuti acara tahlilan, menunjukkan kalau pria yang kerap disapa Bang Ali ini sangat dihormati dan dicintai. Dengan khusyuk mereka melafadzkan tahlil, tahmid, dan takbir untuk mendoakan arwah bapak pembangunan kota Jakarta ini. Tahlilan berhenti saat memasuki shalat Isya. Setelah melaksanakan shalat Isya, para jamaah kembali mendoakan Bang Ali yang kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh salah satu Ustadz.

Tegas dan Konsisten. Bagi warga ibukota, nama Ali Sadikin mungkin tidak akan pernah terlupakan. Berkat jasanya, Jakarta bisa menjadi seperti sekarang ini. Asal tahu saja, pada tahun 60-an, kota Jakarta adalah sebuah kota yang kumuh, amburadul, dan semrawut. Maka tak heran kalau wartawan dan diplomat asing saat itu menjuluki Jakarta dengan sebutan “WC terpanjang di dunia” lantaran di sepanjang sungai Ciliwung berderet-deret kakus milik penduduk.

Saat menjadi Gubernur Jakarta tahun 1966, langkah pertama yang diambil Bang Ali adalah membangun dan membenahi kota Jakarta. Bang Ali sadar betul, untuk mengubah Jakarta menjadi kota yang modern sangat dibutuhkan dana yang cukup besar padahal anggaran Jakarta yang tersedia saat itu hanya Rp 66 juta. Belum lagi masyarakat Jakarta yang kala itu kondisinya sedang terpecah belah sebagai akibat peristiwa pembunuhan para jenderal oleh PKI. Sebagai pemimpin, Bang Ali tidak mau membiarkan warganya hidup dalam kesusahan karena terbatasnya sarana pendidikan, kesehatan, pasar, dan tempat ibadah.

Dengan anggaran yang minim itu, pria kelahiran 20 Juli 1927 ini membuat kebijakan yang cukup berani yaitu menghidupkan dunia malam, melegalkan perjudian dan prostitusi. Bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan pajak besar Bang Ali melegalkan perjudian dan prostitusi. Pasalnya, sebelum dilegalkan, perjudian sudah marak dan keuntungannya hanya dinikmati oleh beberapa gelintir orang saja. Begitupula dengan pelacuran yang tersebar hampir di setiap sudut Jakarta sehingga menimbulkan persoalan sosial. Dengan melokalisasikannya menjadi satu yaitu di Keramat Tunggak, para pelacur jalanan bisa ditertibkan.

Kebijakan beraninya itu bukan tidak mendapatkan protes dan kecaman. Beberapa alim ulama memprotes kebijakan yang kontroversi itu. Namun Bang Ali jalan terus dengan pendiriannya itu setelah gagal menjelaskan kepada para ulama untuk mengerti keadaan. Bahkan Bang Ali pernah disumpahi masuk neraka. Tapi ia bilang kepada para ulama waktu itu, lebih baik bagi seorang pemimpin melanggar ajaran agama daripada membiarkan rakyat susah dan ia rela masuk neraka, asalkan bisa menolong rakyat kecil. Karena keras dan kuat pendiriannya itulah, presiden Soekarno pernah menjulukinya kopig (keras kepala).

Dari hasil dilegalkannya perjudian, Pemda DKI memperoleh pendapatan Rp 40 miliar per tahun dan semua hasilnya untuk membangun Jakarta. Berkat kerja kerasnya, Jakarta yang tadinya kota kumuh, menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Berbagai sarana prasarana ia bangun, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, dan Taman Ria Monas. Di bidang kebudayaan dan pariwisata, dia menggagas tradisi penyelenggaraan pesta rakyat tahunan dalam rangka menyambut hari jadi kota Jakarta setiap tanggal 22 Juni melalui Pekan Raya Jakarta dengan merevitalisasi Pasar Gambir. Menghidupkan ondel-ondel, lenong dan topeng, topeng Betawi, dan membangun Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki. Pemilihan Abang dan None Jakarta untuk pertama kali juga dirintis sejak zaman Bang Ali.

Bang Ali Juga berhasil memperbaiki jalan yang rusak dan membuat jalan-jalan baru. Tak ketinggalan sarana transportasinya dengan mendatangkan banyak bus kota dan menata trayeknya serta membangun halte (tempat menunggu) bus yang nyaman. Di bawah kepemimpinan Bang Ali, Jakarta berkali-kali menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) dan mengantarkan DKI menjadi juara umum berkali-kali. Bang Ali pula yang mencanangkan kawasan segitiga (jalan Jenderal Sudirman, jalan Jenderal Gatot Subroto, dan jalan H Rasuna Said) sebagai pusat bisnis Jakarta.

Dalam bidang hukum Bang Ali juga mendorong sejumlah pengacara muda di bawah pimpinan Adnan Buyung Nasution untuk membentuk lembaga bantuan hukum guna membantu masyarakat miskin, yaitu YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Lembaga yang populer dengan nama LBH itu, Bang Ali membantu pembentukan dan pendanaannya. Tapi kemudian, LBH pula yang berkali-kali menggugat kebijakan Bang Ali, terutama penggusuran. Namun Bang Ali menikmatinya sebagai part of the game (bagian dari permainan, red).

Keberhasilan Bang Ali memimpin kota Jakarta selama 10 tahun dengan berbagai proyek pembangunannya, begitu membekas di hati dan benak warga Jakarta. Maka tak heran warga Jakarta selalu menyebut periode ”zaman Bang Ali Sadikin” untuk mengenang Jakarta tempo dulu yang mereka rasakan lebih manusiawi dan kebijakannya banyak berpihak kepada rakyat. Bang Ali memang sosok pemimpin visioner yang berbicara lewat program aksi. Pemimpin di masa sukar yang teguh pendirian dan berani melawan arus demi kepentingan masyarakat. Berkat kesuksesan membangun Jakarta itu pula, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menganugerahi Empu Peradaban Kota, sebagai bentuk penghargaan jasa-jasa Bang Ali.

Tidak Pendendam. Bang Ali memimpin Jakarta selama dua priode yaitu dari tahun 1966-1977. Sebelum menjabat sebagai gubernur DKI, Bang Ali pernah menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963), Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964), Menko Kompartimen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikota dan Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan (1964- 1966). Setelah masa jabatannya sebagai Gubernur berakhir, tidak lantas membuat Bang Ali berakhir pula dalam membangun kota Jakarta. Ia tetap mempunyai kepedulian yang tinggi dengan kemajuan Jakarta yaitu membangun Jakarta dengan menyumbangkan buah pikiran kepada para penggantinya.

Ketika tidak lagi menjadi Gubernur, Bang Ali memperlihatkan kegigihannya sebagai pejuang demokrasi. Bang Ali banyak menentang kebijakan presiden Soeharto yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Bersama 50 orang yang terdiri dari tokoh-tokoh militer dan swasta, yang kemudian disebut sebagai Petisi 50, mereka menekan pernyataan keprihatinan terhadap kondisi bangsa. Bang Ali mengatakan Soeharto telah salah menafsirkan pancasila sehingga menjadi alat kepentingan kekuasaan semata.

Akibat keterlibatannya di petisi 50 Bang Ali terkena cekal. Bang Ali bukan saja tak bisa bepergian ke luar negeri, namun hak perdata dan hak ekonominya juga dipersulit bersama anggota petisi yang lain. Pada masa itu menurut Boy Bernadi Sadikin (55), anak pertama Bang Ali, semua aktivitas Bang Ali selalu diawasi oleh pemerintah. Seperti tidak boleh memperoleh kredit bank ketika akan membuka usaha dan tidak bisa menghadiri acara seminar atau pernikahan.

Meski selama pemerintahan Soeharto Bang Ali mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan, namun Bang Ali tidak pernah menaruh rasa dendam dengan Soeharto. Buktinya, saat ibu Tien, istri Soeharto meninggal, Bang Ali ikut ziarah dan melakukan tahlilan di Cendana. Bahkan sejak presiden Soeharto lengser, setiap Lebaran ia silaturahmi ke rumah Soeharto di Cendana. Begitupula saat Soeharto sakit, Bang Ali tak lupa menjenguk. “Pada Lebaran tahun lalu sebelum Soeharto meninggal, Bapak tidak silaturahmi ke rumah Soeharto, tapi Soeharto lah yang silaturahmi ke rumah dengan Mbak Tutut,” ujar Boy, anak Ali Sadikin.

Menderita Sakit. Semakin bertambah usia, ternyata kondisi kesehatan Bang Ali juga sering terganggu. Pada tahun 2001 Bang Ali pernah menderita gagal ginjal dan sempat dirawat di rumah sakit militer di Ghuang Zhou, Cina selama tujuh bulan. Bang Ali baru bisa pulang ke tanah air setelah mendapat cangkokan ginjal namun berat tubuhnya berkurang 25 kilogram. Menurut Boy, setelah mencakok ginjalnya pada tahun 2001, kondisi kesehatan Bang Ali terus menurun. Puncaknya pada awal April 2008 saat jatuh di kamar tidur. “Meski sakit, Bapak orangnya tidak mau menyusahkan orang lain. Padahal ada perawat yang menangani tapi Bapak jarang minta bantuan,” ujar Boy. Sejak jatuh, Bang Ali menjadi demam tinggi. Karena kondisinya terus memburuk, Bang Ali dilarikan ke Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Setelah dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah selama satu minggu, Bang Ali dipindahkan ke Rumah Sakit Gleneagles di Singapura. Selama dirawat di Singapura, anak-anak Bang Ali bergantian menjaga termasuk sekretarisnya, Mia. Meski pada saat-saat kritis, Bang Ali menurut Boy masih memikirkan kota Jakarta dan kondisi bangsa. Seperti ia sangat prihatin dengan kondisi negara saat ini dimana biaya pendidikan melambung sehingga orang miskin tidak bisa mengenyam pendidikan yang merupakan hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Begitupula dengan harga-harga bahan pokok yang terus merangkak naik hingga banyak anak orang miskin yang menderita busung lapar karena kekurangan gizi dan berbagai persoalan bangsa lainnya.

Setelah satu bulan dirawat di Rumah Sakit Gleneagles Singapura, Bang Ali menghembuskan nafasnya yang terakhir pada Selasa (20/5) pukul 18.30 waktu setempat atau pukul 17.30 WIB. Bang Ali meninggal dalam usia 82 tahun akibat sakit lever dan komplikasi sakit paru. Bang Ali meninggalkan satu istri, Linda Syamsudi Mangan (istri kedua) dan lima anak, Boy Bernadi Sadikin, Edi Trisnadi Sadikin, Irawan Hernadi, Benyamin Irwansyah Sadikin, Yasser Umarsyah Sadikin.

Kuburannya Di Tumpang. Saat menjadi Gubernur Jakarta, Bang Ali melakukan penggusuran kuburan. Bagi sebagian orang, penggusuran kuburan adalah sesuatu yang sangat tabu. Tapi Bang Ali beralasan, kalau kuburan tidak digusur maka pembangunan tidak mungkin bisa dilakukan. Sebab pada masa itu kuburan terdapat di setiap perkampungan di Jakarta. Bang Ali menggantinya dengan membangun Taman Pemakaman Umum (TPU). Bang Ali juga menganjurkan makam bersusun, artinya, satu liang makam digunakan secara tumpang tindih.

Sebelum meninggal, Bang Ali berpesan kepada keluarganya agar ketika meninggal jenazahnya ditumpangkan di makam istrinya, Nani Sadikin. Sesuai wasiat, maka jenazah Bang Ali di tumpangkan di makam istri pertamanya drg. Nani Arnasih. Bagi Boy, wasiat ayahnya adalah bukti konsistensinya dalam bersikap, berpikir, dan berperilaku, mengingat lahan Jakarta semakin sempit. Doel

Side Bar I:

Boy Bernadi Sadikin, Putera Sulung Bang Ali

Bapak berkata akan pergi pada hari Selasa”

Di mata keluarga, sosok Bang Ali merupakan figur seorang ayah yang cukup bertanggung Jawab dan bersahaja. Selain itu, sebagai mantan Gubernur, Bang Ali hidupnya sangat sederhana. Ia tidak enggan untuk makan di pinggir jalan bersama masyarakat kelas bawah. Prinsip hidup sederhana yang ia lakoni juga ia ajarkan kepada anak-anaknya. ”Bapak selalu berpesan dalam hidup untuk melihat ke bawah, karena kalau melihat ke atas pasti tidak akan merasa puas,” ujar Boy.

Selain kesederhanaan, ajaran Bang Ali kepada anak-anaknya adalah berani bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuat dan harus siap menanggung risiko dalam hidup. “Semua ajaran yang Bapak sampaikan kepada anak-anaknya, Bapak juga mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat membangun kota Jakarta,” jelas Boy lagi.

Dalam mendidik anak-anaknya, Bang Ali juga tidak pernah memaksakan kemauannya sendiri sehingga ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. ”Bapak itu orangnya demokratis,” tegas Boy. “Bapak hanya meminta anak-anaknya untuk tidak mengikuti jejaknya di dunia militer. Makanya anak-anaknya tidak ada yang masuk ABRI,” tambah Boy.

Saat menjadi Gubernur DKI, Bang Ali juga tidak pernah menganakemaskan anak-anaknya. Seperti yang dialami Boy saat masih SMU. Saat itu Boy akan pergi ke Glodok, karena kehausan ia mampir ke kantor Bapaknya untuk istirahat dan numpang minum. Saat akan pergi ke dapur untuk mengambil air minum, rupanya Bapaknya melihatnya karena pintu dapur dan ruang kerja Bapaknya berhadapan. “Kamu ke sini mau apa?” hardik Bapaknya. Dengan perasaan serba salah, Boy langsung menjawab, “Mau minum pak, saya haus.” Setelah minum, Bapaknya langsung menyuruhnya ke luar dari ruangan. Sejak saat itu Boy tidak lagi berani masuk ke kantor Bapaknya.

Firasat. Menurut Boy, kepergian Bapaknya untuk selama-lamanya, sudah ia rasakan tanda-tandanya saat sang Bapak dirawat di rumah sakit di Singapura. Saat itu Bapaknya sering menyebut nama kakak-kakaknya yang sudah meninggal, Husain Sadikin dan Usman Sadikin. Padahal ada yang belum meninggal yaitu Abu Sadikin namun tidak pernah disebut namanya oleh sang Bapak. Begitupula sekretarisnya, Mia, yang juga sempat merasakan firasat. Sebelum masuk ICU, Bang Ali pernah menanyakan hari kepada Mia. Bang Ali mengatakan pada hari Selasa akan pergi namun ia tidak pernah mau menjelaskan akan pergi ke mana. “Makanya, setiap menjelang hari Selasa, Mia selalu was-was,” ujar Boy. Ternyata benar, rupanya Bang Ali akan pergi, pergi menghadap sang Maha Kuasa. Doel

Side Bar II

Imam Maliki, Sopir Bang Ali

Selama saya ikut Bang Ali, baru sekali itu beliau minta dicium”

Imam Maliki atau yang biasa disapa Malik ini merupakan sopir kedua Bang Ali, sopir sebelumnya berasal dari Angkatan Laut. Malik menjadi sopir sejak Bang Ali sudah tidak lagi menjabat sebagai Gubernur. “Saya jadi sopir Bapak dari tahun 1986, jadi sudah 22 tahun saya ikut Bapak,” cerita Malik. Bagi Malik, sosok Bang Ali adalah pribadi yang komplit. “Semua yang ada dalam diri Bapak tak ada yang terlupakan. Beliau seorang bapak, kakek, teman, dan sekaligus seorang guru yang baik,” ujarnya mengenang. Dan yang membuat Malik betah bersama Bang Ali adalah, Bang Ali selalu “mengorangkan” orang. Meski hanya seorang sopir, Bang Ali sangat menghargai pendapatnya. “Bahkan saya sering bantah-bantahan pendapat dengan Bapak,” jelasnya lagi.

Selama menjadi sopir Bang Ali, Malik mengaku kalau setiap mengisi bensin, Bang Ali selalu memberikan tips kepada penjaganya. “Hampir tidak pernah Bang Ali tidak ngasih uang tips, dan minimal kalau ngasih itu satu kali ongkos naik mobil dan bahkan saya sekarang sudah terbiasa, kalau membeli bensin meski untuk motor saya sendiri, selalu ngasih uang tips,” ujarnya. Bang Ali juga selalu memberikan uang kepada para pengemis setiap kali berhenti di lampu merah.

Menurut Malik, Bang Ali dengan Jakarta sudah seperti jiwa dan raga. Seperti saat di jalan dan menemui jalanan yang rusak, Bang Ali maunya datang ke kantor Camat untuk menanyakan kondisi jalan. ”Sering kali kita belok di jalan datang ke kantor Camat tanpa ada rencana ketika ada jalan berlobang,” ungkapnya. Dan tak jarang pula Bang Ali mendatangi kantor Gubernur kalau ada masalah tentang kondisi Jakarta.

Ciuman Pertama dan Terakhir. Sebelum ikut dengan Bang Ali, setiap Lebaran, pria asli Surabaya ini selalu pulang ke rumah untuk sungkem dengan orang tua. Namun sejak ikut Bang Ali, Malik hanya pulang dua kali pada saat Lebaran. “Bang Ali tidak mau diganti dengan sopir yang lain makanya setiap Lebaran saya tidak pulang karena sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri. Saya pun tidak pernah nolak,” ujarnya.

Pengalaman yang tidak mungkin terlupakan buat Malik sejak ikut dengan Bang Ali adalah saat Bang Ali masuk Rumah Sakit Pondok Indah, tiga hari sebelum dipindahkan ke Singapura. Saat Malik menjaga Bang Ali, tiba-tiba saja Bang Ali minta dicium. Padahal di situ ada anak-anak dan keluarganya. Karena merasa tidak enak, Malik hanya diam saja. Tapi Bang Ali tetap memaksa dan berteriak, “Ayo Malik.” Mendenger teriakan itu, akhirnya Malik mencium kedua pipi Bang Ali. “Seumur saya ikut Bang Ali, baru sekali itu beliau minta dicium,” ujarnya berkaca-kaca.

Sejak peristiwa itu Malik mengaku perasaannya tidak karuan, dan sudah punya firasat tidak bisa bertemu lagi. Sebab, beberapa kali Bang Ali sakit, ia tidak pernah minta dicium. “Rupanya permintaan itu adalah permintaan terakhirnya,” ujarnya. Doel

Tidak ada komentar: