Rabu, 09 April 2008

R. Hardianto Wardjaman, SH., Ketua Jakarta Rescue

R. Hardianto Wardjaman, SH., Ketua Jakarta Rescue

Rela Bercerai dari Sang Istri Demi Aktivitas Sosial

Sangat jarang orang yang mau terlibat di aktivitas sosial apalagi tidak mendapatkan bayaran sepeser pun. Namun lain halnya dengan R. Hardianto Wardjaman. Baginya, terjun di dunia aktivitas sosial adalah pilihan hidup yang harus dijalani hingga rela bercerai dengan sang istri karena terlalu sering ditinggal. Apa yang mendasari semua kegiatan aktivitas sosialnya itu?

Sabtu (23/2) siang di sebuah rumah sederhana yang berlokasi di pinggiran Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, terlihat selusinan orang berseragam orange antusias mendengarkan pemaparan dari seorang instruktur. Sesekali mereka mendiskusikan mengenai salah satu materi yang disampaikan. Orang-orang yang berseragam orange itu adalah para anggota Jakarta Rescue yang tengah menjalani pelatihan tingkat terampil (intermediate) dari seorang instruktur bernama R. Hardianto Wardjaman, yang tak lain adalah juga pendiri dan ketua Jakarta Rescue.

Pelatihan itu baru berhenti saat jam tepat menunjukkan angka 12.00, waktunya untuk istirahat dan makan siang. Di sela-sela istirahatnya itulah, R. Hardianto Wardjaman atau yang kerap disapa Anto ini mau berbagi kepada Realita seputar aktivitas sosial yang ia anggap sebagai hobi itu.

Anto sendiri merupakan anak terakhir dari 11 bersaudara dari pasangan (Alm) H.R. Wardjaman Yuda Subrata dan R. Ratna Ayu (90). Sebagai anak terakhir, Anto mengaku tidak mau terbelenggu dengan kemanjaan keluarga. “Biar anak bontot, saya harus mandiri,” ujarnya. Seperti saat SMP di mana ia sudah bisa membiayai sekolahnya sendiri dengan berjualan rumput Peking dan rumput Gajah di depan TVRI. Saat masuk SMA di Bulungan Jakarta Selatan, ia berhenti berjualan rumput dan beralih profesi menjadi seorang makelar tanah. Pekerjaan ini ia lakoni hingga selesai SMA.

Setamat SMA Anto melanjutkan kuliahnya ke Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG). Karena sejak kecil sangat hobi naik gunung, maka pada saat kuliah Anto pun bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam. Sebagai mahasiswa pecinta alam, hampir semua gunung yang ada di Indonesia pernah ia daki. Hidup di alam rupanya mengajarkan Anto banyak hal yaitu, menghargai alam, solidaritas, dan membantu antar sesama.

Membentuk Jakarta Rescue. Bagi pria berkumis tebal kelahiran Jakarta 12 April 1963 ini, membantu orang adalah panggilan jiwa. Apalagi jika berkaitan dengan masalah penanganan bencana alam yang sudah menjadi hobinya sejak kecil. Anto sendiri membentuk Jakarta Rescue berawal dari sebuah peristiwa tabrakan kereta api di Bintaro tahun 1986 lalu. Saat itu kereta api yang berangkat dari Rangkas Bitung dan kereta api yang berangkat dari stasiun Tanah Abang bertabrakan dan menewaskan lebih dari 100 orang penumpang. “Saat itu banyak sekali potongan-potongan badan korban yang berserakan di jalan,” kenangnya. Yang disesalkan Anto kala itu adalah, masyarakat sekitar hanya menonton saja, tidak ada yang mencoba membantu mengevakuasi para korban. “Saat itu hati saya langsung tergerak untuk menolong,” ungkapnya. Karena tidak ada yang berani mengevakuasi para korban, akhirnya Anto memanggil teman-temannya yang tergabung di Jakarta Wilis Club, untuk mengevakuasi para korban dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat.

Sejak peristiwa naas itu, Anto berfikir untuk membentuk satu wadah sosial kemanusiaan untuk membantu mengevakuasi masyarakat jika terjadi bencana atau kecelakaan. Setelah berdiskusi dengan teman-temannya, akhirnya disepakati membentuk wadah yang bernama Jakarta Rescue pada tanggal 28 Juni 1986. Anto sendiri didaulat sebagai ketuanya dan saat itu juga peresmiannya dikukuhkan oleh ketua PMI DKI Jakarta, Bpk. Muhammad Muas, SH. Didirikannya wadah ini adalah untuk menggalang dan membina generasi muda Jakarta sebagai kader terdepan insan penyelamat yang handal dengan pengetahuan dan wawasan berstandar Internasional.

Sebagai seorang ketua tentunya Anto harus mempunyai pemahaman yang luas terhadap manajemen bencana. Untuk menambah wawasannya itu, setelah dipercaya menjadi ketua, Anto melanjutkan pendidikan rescue-nya ke luar negeri yaitu ke negeri Jepang dan Amerika.

Meski Jakarta Rescue didirikan di Jakarta, namun bukan berarti wilayah operasi Jakarta Rescue hanya bergerak di Jakarta saja. Hampir setiap ada bencana alam di seluruh Indonesia, baik itu banjir, gempa bumi, longsor, maupun gunung meletus, Jakarta Rescue juga ikut serta dalam memberikan bantuan. Seperti tenaga medis, evakuasi, logistik, dan lain-lain. “Setiap ada bencana, sebisa mungkin Jakarta Rescue ikut memberikan bantuan,” ujarnya.

Bukan Milik Pemda DKI. Sebagai warga Jakarta atau di luar Jakarta, mungkin banyak yang beranggapan bahwa Jakarta Rescue adalah bagian dari Pemda DKI. Padahal, Jakarta Rescue adalah organisasi independen yang tidak terikat dengan organisasi maupun instasi manapun. Nama Jakarta Rescue dipakai, sebab yang mendirikan adalah anak-anak Jakarta yang mempunyai kepedulian terhadap sesama. Karena bukan bagian dari Pemda DKI, Jakarta Rescue pun tidak pernah mendapat sokongan dana dari Pemda DKI. “Masyarakat di luar banyak yang beranggapan kalau Jakarta Rescue adalah bagian dari Pemda padahal Jakarta Rescue adalah organisasi independen dan kita tidak pernah dibantu oleh Pemda,” tandasnya.

Adapun untuk biaya operasional, kegiatan Jakarta Rescue tidak mencari dana dari founding-founding luar negeri atau perusahaan-perusahaan dalam negeri seperti kebanyakan yang dilakukan oleh beberapa LSM. Dananya sendiri diperoleh dari para anggota yang kemudian dijadikan usaha dalam menopang kegiatan Jakarta Rescue. “Kalaupun ada yang memberi bantuan, kita akan terima tapi kita tidak akan meminta bantuan dalam aksi kemanusiaan,” tegasnya.

Bentuk usaha yang dikerjakan Jakarta Rescue adalah dengan cara membuat barang-barang perlengkapan out bond seperti celana, sepatu, tas, dan baju yang dijual ke para anggota maupun ke pasar bebas. Selain itu, Jakarta Rescue juga menjadi agen dari perusahaan asing yang membuat perahu karet untuk dijual di Indonesia. “Keuntungannya kalau beli perahu karet kepada kita yaitu akan kita berikan pelatihan dalam penggunaannya,” tutur Anto.

Selain dari usaha-usaha yang dilakukan, Jakarta Rescue juga memiliki dana abadi yang diperoleh dari Setneg (Sekretariat Negara, red) saat menjadi panitia ulang tahun Indonesia emas yang kelima puluh tahun sebesar Rp 60 juta yang terus dikembangkan. Sebagai organisasi sosial, Jakarta Rescue sebenarnya sering mendapat tawaran bantuan pendanaan dari luar negeri. Akan tetapi, tidak semua tawaran itu diterima. Seperti saat terjadi bencana gempa di Yogyakarta. Ada salah satu LSM luar negeri yang menawarkan untuk memberikan bantuan namun Jakarta Rescue tidak merespon tawaran tersebut. Untuk diketahui, dalam menjalankan misinya, Jakarta Rescue setiap tahun menganggarkan alokasi dana sebesar Rp 60 sampai 80 juta untuk operasional kegiatannya.

Adapun sistem organisasi di Jakarta Rescue menggunakan sistem bottom up dan bukannya top down sehingga dari tahun 1986 sampai sekarang bisa tetap eksis tanpa mengandalkan bantuan dari siapapun. Dengan menggunakan metode bottom up, para anggota di tuntut untuk seinovatif mungkin dalam mencari sumber-sumber dana. “Sebenarnya semua organisasi di Indonesia bisa hidup asal jiwa korupsinya tidak ada di ketuanya,” bebernya. Anto juga menambahkan bahwa rusaknya organisasi di Indonesia adalah organisasi amatiran yang ketuanya ingin menguasai keuangan organisasi padahal uang tersebut datangnya dari masyarakat.

Sebagai organisasi sosial yang modern, Jakarta Rescue membagi wilayah operasional kerjanya untuk di Jakarta menjadi lima bagian yaitu Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara. Juga ada yang di Depok. Selain di Jakarta, Jakarta Rescue juga mengembangkan cabangnya di daerah-daerah hingga saat ini tercacat ada 33 unit cabang di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga saat ada bencana alam yang terjadi di suatu daerah, pihak daerah langsung berkoordinasi dengan pusat.

Tim Jakarta Rescue yang berada di daerah mereka adalah alumni-alumni yang telah mendapat pendidikan di pusat Jakarta Rescue. Sedangkan sistem koordinasinya antar daerah dengan pusat menggunakan sistem mutual independen yaitu setiap wilayah diberi keleluasaan dan kebebasan dalam mengembangkan organisasinya berdasarkan kekuatan managerial organisasi itu.

Quick Action. Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, Jakarta Rescue tidak pernah menunggu diminta bantuannya. Akan tetapi setiap terjadi bencana di daerah manapun seperti tsunami maupun banjir, tanpa diminta siapa pun, Jakarta Rescue akan langsung terjun memberikan bantuan. “Jadi, prinsip kita adalah quick action,” bebernya. Tapi tidak semua bencana yang terjadi di Indonesia dibantu oleh Jakarta Rescue, “Biasanya sebelum memberikan bantuan kita akan melakukan mapping terlebih dahulu apakah bencananya parah atau tidak. Kalau parah, setelah di mapping kita akan bantu,” ungkapnya.

Hal yang paling dihindari dari para anggota Jakarta Rescue adalah popularitas. Oleh karena itu, setelah selesai melakukan aksi kemanusiaan (humanity action), langsung akan ditinggal. Sebab dalam aksi kemanusiaan tidak boleh ada perasaan untuk pamer dalam menolong karena semua anggota Jakarta Rescue adalah orang-orang yang memiliki hobi di bidang kemanusiaan yang merasa terpanggil ketika ada bencana sebagaimana yang tercantum dalam motonya sendiri yaitu, “Loyalitas tanpa batas selamatkan sesama.” Moto tersebut merupakan harga mati bagi para anggota Jakarta Rescue. Tidak hanya itu, Jakarta Rescue juga tidak pernah membeda-bedakan dalam memberikan bantuan baik kepada orang kaya maupun miskin. Sebab, prinsip aksi kemanusiaan tidak boleh membeda-bedakan kaya maupun miskin dan suku maupun agama.

Sejak didirikan pada tahun 1986 sampai dengan sekarang, Jakarta Rescue sudah 16 kali melakukan aksi kemanusiaan dalam skala besar seperti meletusnya gunung galunggung tahun 1982 sampai peristiwa tsunami di Aceh. Adapun seperti banjir yang sering terjadi di Jakarta sudah menjadi rutinitas bantuan dari Jakarta Rescue. Aksi kemanusiaan Jakarta Rescue juga ditunjang dengan berbagai fasilitas yang sangat canggih seperti mobil operasional lintas alam, alat penyelamat torpedo, perahu sekoci, dan lain-lain. Untuk saat ini, Jakarta Rescue merupakan organisasi Rescue yang terbesar dan tersolid di Indonesia.

Tidak Digaji. Umumnya orang yang bekerja di aktivitas sosial akan mendapatkan gaji atau bayaran karena telah meluangkan waktu dan tenaganya. Namun, berbeda halnya dengan di Jakarta Rescue. Semua anggotanya tidak mendapatkan bayaran sebab Jakarta Rescue bukanlah tempat untuk mencari uang melainkan sebagai wadah atau kumpulan orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang benar-benar mempunyai sifat sosial yang sangat tinggi.

Sementara itu, para anggota Jakarta Rescue yang berada di Jakarta kebanyakan datang dari berbagai latar belakang yang sangat beragam. Ada yang berprofesi sebagai seorang pengajar, dosen, perawat, dan bahkan ada juga yang berprofesi sebagai seorang ustadz yang memiliki pesantren di Jakarta. Anto sendiri yang menjabat sebagai Ketua, bekerja di PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri TASPEN (persero) sebagai peneliti muda.

Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, pengalaman yang paling membahagiakan dan paling berkesan bagi Anto adalah manakala ia bisa mengevakuasi bayi dan nenek-nenek yang tak berdaya. “Kalau kita bisa menyelamatkan bayi dan nenek-nenek, itu pasti happy ending,” kisahnya. Sebab, bayi dan nenek-nenek adalah dua orang manusia yang sangat lemah sehingga ketika bisa menemukan dan menyelamatkan mereka, akan menjadi kesan yang sangat mendalam. Seperti saat mengevakuasi 122 keluarga yang terperangkap banjir deras di Bukit Duri di kedalaman lima meter. Saat itu hanya dengan dua perahu, tim Jakarta Rescue bisa mengevakuasi para korban. “Kita sangat bahagia saat bisa menemukan dan mengevakuasi bayi dan nenek-nenek yang terperangkap,” ujarnya.

Harus Bercerai. Kebanyakan orang yang terjun di dunia aktivitas sosial, meski tidak semua, namun di antara mereka pasti akan sering meninggalkan keluarga. Begitupula halnya Anto. Ia sadar betul dengan aktivitas sosialnya ini. Namun karena semua itu adalah pilihan hidup, maka ia pun rela untuk mengambil risiko tersebut. “Sebagai seorang suami dan ayah, saya sudah berusaha untuk menyeimbangkan aktivitas sosial saya ini dengan kepentingan keluarga,” ujar ayah dari Ratu Aulia Fitrianti (12) ini. Sayangnya misi mulia ini tidak sejalan dan sepaham dengan sang istri. Sang istri menginginkan Anto selalu berada di rumah bersama istri dan anaknya dan hanya berfikir untuk istri dan anaknya saja. Karena perbedaan prinsip itulah akhirnya Anto memutuskan untuk berpisah dengan sang istri.

Bagi Anto, ketika seorang suami sudah memberikan hak istri dan anaknya, ia juga berhak memberikan waktunya untuk orang lain agar hidupnya bermanfaat. Sebab, menurutnya, kebahagiaan hakiki dan tertinggi manakala ia bisa berbagi kepada siapa pun. Berbagi pun tidak harus melulu bersifat materi. Bisa juga dengan tenaga, pikiran, dan waktu yang dikeluarkan. Selain itu Anto juga percaya bahwa jika orang memberikan satu kebaikan, maka Allah juga akan melipatgandakan kebaikan itu seratus kali lipat pahalanya.

Harapan terbesar Anto dengan apa yang dilakukannya selama ini adalah, ingin menggugah kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap sesama. Sebab, menurutnya, setelah era reformasi yang terjadi di tahun 1998, jiwa sosial dan gotong royong masyarakat sangat rendah. “Masyarakat sekarang sangat individualistis satu sama lain dan tidak mau saling membantu. Seperti untuk kerja bakti di lingkungan saja, jarang ada yang mau. Padahal itu lingkungannya sendiri,” sesalnya. Doel

Side Bar I

Pernah Investigasi TKW yang Dijadikan Budak Seks di Malaysia

Untuk menjadi anggota Jakarta Rescue, tidaklah mudah. Sebab mereka harus melalui beberapa tahapan pelatihan. Yang pertama adalah tingkat dasar (basic). Kedua, tingkat terampil (intermediate) dan yang ketiga adalah tingkat mahir (advanced). Ketika seseorang telah melewati tingkat tiga, ia baru bisa diterjunkan di lokasi bencana alam. “Dalam menerjunkan relawan, kita tidak sekadar menerjunkan karena bisa-bisa akan menyelakai si relawan itu sendiri,” tutur Anto.

Selama menjalankan operasi kemanusiaan, Jakarta Rescue tidak pernah gagal. Sebab dalam bencana apa pun target sudah terintuisi harus tercapai. “Jadi, kita menyelamatkan diri sendiri untuk menyelamatkan orang lain. Selain itu, dalam setiap operasi selalu menggunakan perencanaan matang dan mapping (pemetaan) yang baik sehingga dalam menjalankannya selalu berhasil dan bahkan sering menyelamatkan tim rescue yang lain,” jelas Anto. Dalam setiap tim operasi terdapat beberapa tim yaitu tim Advance atau tim Mapping, Evakuasi, logistik, dan medis.

Selain di wilayah Indonesia, Jakarta Rescue juga pernah investigasi penyekapan seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang dijadikan budak seks di Malaysia di daerah Kucing. Saat itu, tim Jakarta Rescue menyamar sebagai turis untuk berlibur ke Malaysia. Setelah sampai di Malaysia, tim Jakarta Rescue lalu mencari informasi data tentang penyekapan dan melaporkannya kepada pihak kepolisian. Menurut Anto, sebenarnya kalau ingin melakukan operasi kemanusiaan di suatu negara, agar lebih jeli, lebih baik lewat tim rescue daripada pihak kepolisian. Doel

1 komentar:

mansur alfallah mengatakan...

Sangat sangat Luar biasa...salam tangguh salam kemanusiaan( serayu Rescue)