Sabtu, 08 Januari 2011
Selasa, 04 Januari 2011
Rabu, 22 Juli 2009
Di Balik Kasus Antasari Azhar, Ketua KPK Non Aktif
Banyak sudah kasus yang membuktikan bahwa kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga, seringkali membawa kehancuran. Sebut saja kasus yang sempat menghebohkan antara Maria Eva seorang penyanyi dangdut dengan Yahya Zaini, seorang anggota DPR yang berakhir dengan pemecatan Yahya Zaini. Seorang dai kondang Aa Gym yang memilih menikah lagi dengan Teh Rini, yang kemudian membuat bisnis Aa Gym menurun. Seorang penyanyi Mayangsari yang berhasil merebut Bambang Trihatmodjo hingga rumah tangganya hancur berantakan. Dan yang terakhir adalah kasus Antasari yang diduga motif asmara sebagai salah satu pemicunya. Benarkah hanya cinta segitiga?
Narasumber1:
Ida Laksmiwati, Istri Antasari Azhar Ketua KPK Non Aktif
“Sebagai wanita biasa, saya merasa sedih”
Kiprah Antasari selama menjadi ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) memang banyak dielu-elukan orang. Melalui tangan dingin alumni Universitas Sriwijaya ini KPK banyak membongkar kasus-kasus korupsi berskala besar. Tak pelak Antasari dielu-elukan sebagai orang yang menjadi harapan pemberantasan korupsi di negeri ini. Demikian pula di mata keluarganya, Antasari lebih dari sekadar nakhoda.
Belakangan mendadak nama Ida Laksmiwati menjadi bahan perbincangan tatkala Antasari terseret dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang membawa-bawa nama perempuan bernama Rani Juliani yang dianggap sebagai pemicu terjadinya pembunuhan tersebut. Ada cinta terlarang yang melibatkan suaminya. Menanggapi berbagai spekulasi yang beredar di masyarakat, Ida tetap bersikukuh bahwa suaminya tak terlibat dengan segala persoalan yang dituduhkan kepadanya. “Saya sudah kenal dengan bapak puluhan tahun. Saya lebih percaya suami saya,” katanya saat ditemui di sebuah televisi swasta di Jakarta Barat.
Sebagai seorang istri dan manusia biasa, perempuan berambut panjang ini tetap merasa prihatin dan sedih dengan peristiwa yang kini menimpa suaminya. “Saya diminta sabar dan tabah. Selain itu bapak juga minta agar menjaga anak-anak,” tukasnya. Sebelum peristiwa ini terjadi dia mengaku tak memiliki firasat buruk apa pun, semua berjalan normal seperti biasa. Selama ini yang namanya teror baik lewat telepon maupun SMS sudah menjadi makanan Ida sehari-hari. Tatkala suaminya terseret kasus seperti sekarang ini pun, hal seperti itu tak berhenti, malah kian menjadi-jadi. “Hal seperti itu saya terima baik dari anak kecil hingga orang dewasa,” ungkapnya. “Tapi semua itu sudah saya anggap sebagai risiko istri,” tambahnya.
Tatkala disinggung nama Rani Juliani, Ida mengaku tak tahu menahu dengan perempuan tersebut. Dia kembali menegaskan lebih percaya suami daripada kabar yang simpang siur. “Bapak adalah penyayang keluarga. Meski tidak pulang dia selalu memberi kabar,” terangnya. Jika ada waktu luang tetap mnyempatkan diri berkumpul dengan keluarga.
Hal senada juga dikatakan tatkala dirinya keluar dari tahanan narkoba Polda Metro Jaya usai membesuk suaminya. Ida tak merasa kaget tatkala suaminya yang selama ini gagah berani menangkapi para koruptor kali ini malah memakai baju tahanan. “Masih untung pakai baju, daripada nggak sama sekali,” selorohnya. Selain menjalani pemeriksaan, Antasari memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku sejarah dan agama. “Kita serahkan saja kasus ini pada para penegak hukum,” tukasnya. Benar kata orang bijak, setiap ada pertarungan yang menjadi korban adalah keluarga. Must, Erni
Narasumber2:
Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT Putra Rajawali Banjaran yang Tewas Terbunuh
Sebelum Menikah dengan Nasrudin, Rani adalah Kekasih Antasari
Dugaan adanya cinta segitiga dalam kasus pembunuhan Nasrudin, disebut-sebut menjadi salah satu motifnya. Rani yang diketahui sebagai istri ketiga Nasrudin dari pernikahan sirinya, diduga juga mempunyai hubungan khusus dengan ketua KPK non aktif Antasari Azhar. Bagaimana tanggapan pihak keluarga Nasrudin terhadap munculnya nama Rani Juliani. Dan bagaimanakah hubungan antara Nasrudin dengan Antasari sebenarnya?
Seperti diberitakan sebelumnya, Nasrudin Zulkarnaen (41) direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) ditembak di dalam mobilnya saat perjalanan pulang selesai bermain golf, Sabtu 14 Maret 2009. Semasa hidupnya, Alm. Nasrudin memang hobi bermain golf. Bahkan ia kerap menjuarai berbagai turnamen yang diselenggarakan pihak Padang Golf Modernland, Cikokol Tangerang dimana ia menjadi salah satu membernya. Selain hobi, bermain golf biasa dijadikan Nasrudin sebagai ajang bertemu rekan bisnis. Beberapa kali Nasrudin pun pernah bermain golf bersama Antasari Azhar yang juga merupakan sesama anggota.
Menurut pengacara keluarga, Boyamin Saiman, Nasrudin memang sudah sejak lama berteman dengan Antasari. “Bahkan sejak sebelum Antasari menjadi pejabat negara,” katanya. Lebih lanjut Boyamin menjelaskan, mereka (Nasrudin dan Antasari, red) dilaporkan saling bertukar informasi tentang kasus yang terjadi di PT RNI (Rajawali Nusantara Indonesia, induk perusahaan PRB). Dalam perkembangannya, Nasrudin kecewa karena dalam kasus PT RNI, hanya direktur keuangan perusahaan tersebut yang ditetapkan sebagai tersangka. Hubungan pertemanan yang telah terjalin begitu lama ini akhirnya kandas juga. Pertemanan mereka rusak dan berakhir dengan pembunuhan. Tragisnya, faktor pemicunya adalah cinta segitiga antara Nasrudin, Antasari, dan Rani Juliani (22).
Sebelumnya, Nasrudin tertarik dengan Rani, seorang caddy (pengambil bola atau pembawa stik pemain golf) dari Padang Golf Modernland yang kerap menemaninya bermain golf. Namun, saat itu Rani dikabarkan sudah berhubungan dan menjadi kekasih Antasari. Karena butuh kejelasan, Rani lebih memilih Nasrudin yang mau menikahinya meski secara siri. Perseteruan terus berkembang saat Antasari menjalin hubungan diam-diam kembali dengan Rani yang saat itu statusnya adalah sebagai istri ketiga Nasrudin. Karena merasa dikhianati itulah Nasrudin menjadi marah kepada Antasari. Dia lalu mengancam akan membuka skandal asmara Antasari dengan Rani tersebut ke publik. Ancaman Nasrudin itulah tutur Boyamin, yang membuat Antasari panik hingga dia merasa perlu untuk meminta Nasrudin mengurungkannya jika tidak ingin mendapat masalah.
“Pak Nasrudin diancam untuk tidak membuka skandal tersebut ke publik. Mungkin sebagai pejabat, Antasari khawatir jika skandal itu mencuat akan mencoreng reputasinya atau bahkan dia akan diberhentikan. Karena itulah dia sampai mengancam pak Nasrudin agar tidak dipublikasikan,” kata Boyamin. Namun Boyamin tidak menjelaskan lebih lanjut lagi karena semuanya sudah ditangani polisi, termasuk semua bukti yang didapat dari pihak keluarga.
Ditemui realita di sebuah studio salah satu televisi swasta, Rabu (6/5) malam, Andi Syamsudin adik Alm. Nasrudin tidak mau menjelaskan bagaimana hubungan Nasrudin dan Antasari lebih lanjut. Ia hanya menjelaskan bahwa semua sudah ditangani pihak kepolisian. “Saya nggak mau berkomentar tentang hal itu, lebih baik cek saja ke polisi,” tuturnya singkat. Terkait keterangan data korupsi yang Nasrudin sampaikan ke KPK, Andi juga pernah mendengarnya. Namun ia enggan menjelaskan secara detail kasus apa saja yang dilaporkan. “Semasa hidupnya, ia (Nasrudin, red) pernah bercerita kepada saya tentang hal-hal tersebut. Tapi saya nggak bisa kasih tahu,” lanjutnya singkat. Menurut Andi, dugaan motif cinta segitiga yang mengaitkan Rani Juliani dinilainya sudah kebablasan. Pemberitaan tersebut dianggapnya cuma opini belaka. Bahkan, Andi sendiri tidak pernah mengenal sosok Rani itu seperti apa. “Saya tidak kenal siapa itu Rani. Terlebih saya tidak tahu status dia yang kabarnya sudah dinikah siri Almarhum,” paparnya. Berita yang berkembang saat ini adalah opini liar yang menyesatkan. Menurut Andi, dari pihak keluarga sendiri tidak terlalu menanggapi masalah itu.
Boyamin menambahkan bahwa istri kedua Nasrudin (istri sah Nasrudin karena istri pertamanya sudah dicerai) pernah bertanya kepada Alm. Nasrudin siapa itu Rani. Dan saat itu Rani dikenalkan sebagai anak angkatnya. “Pak Nas menjawab bahwa Rani adalah anak angkatnya,” ungkapnya kepada realita. Suparmin (34), sopir pribadi Nasrudin sejak Januari 2008 yang sedang bersama Nasrudin saat terjadinya penembakan juga mengatakan bahwa Nasrudin mengenalkan Rani kepadanya sebagai anak angkat. “Apalagi di rumah bapak (Nasrudin, red) juga ada anak angkat lainnya bernama Princes. Jadi saya percaya saja,” ujar Suparmin. Saat diperiksa polisi, Suparmin baru tahu kalau Rani dan Nasrudin sebenarnya telah menikah siri pada Juni 2007.
Sejak kematian Nasrudin, diakui Andi, keluarga besar mereka mengalami kesulitan ekonomi. “Kematian Almarhum adalah sebuah kepedihan,” lanjutnya. Sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara, Nasrudin adalah tumpuan perekonomian keluarga dan saudara-saudaranya.
“Soal penangkapan pelaku, kita sudah menduganya sejak lama. Pokoknya kita punya data yang sama dengan kepolisian,” aku Andi. Andi dan pihak keluarga hanya bisa menunggu keterangan dan perkembangan dari pihak kepolisian tentang kelanjutan kasus ini. Erni
Narasumber3:
Rani Juliani, Mantan Caddy
Kini Hidup Senang di Tempat Mewah
Nama Rani Juliani belakangan ini sangat akrab ditelinga kita. Semenjak kasus penembakan Nasrudin yang menyeret ketua KPK, Antasari Azhar, nama gadis cantik ini menjadi buah bibir di seluruh media dan menjadi wacana nasional. Kepergian Rani sekeluarga mengundang banyak tanda tanya. Bahkan di lingkungan sekitarnya. Menurut Neneng, salah satu tetangganya, keluarga Rani bukanlah asli warga Tangerang melainkan pendatang. Kedua orangtua Rani, Endang M. Hasan dan Kuswati berasal dari Banten. “Keluarga Rani pindah dan tinggal di Tangerang dari tahun 1981,” terangnya.
Rani merupakan putri ketiga dari empat bersaudara. Sebelum pensiun, ayahnya bekerja sebagai sopir di PT Tifico Tangerang. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak menentu membuat perempuan kelahiran 1 Juli 1986 itu tergerak untuk bekerja sejak duduk di bangku SMA.
Setelah lulus tahun 2003, Rani mendaftar pramugari atas saran sang ibu. Dengan harapan bisa membantu ekonomi keluarga. Sayangnya saat ikut test, Rani tidak lulus lantaran badannya kegemukan. Sebenarnya Rani ingin kuliah namun orangtuanya tidak punya biaya. Ia pun mengurungkan niatnya. Untuk membantu ekonomi keluarga, Rani pun melamar pekerjaan menjadi caddy (pemungut bola golf) di Padang Golf Modernland, Tangerang sekitar tahun 2005.
Caddy Termahal. Berkat wajahnya yang cantik dan manis, sosok Rani sebagai caddy langsung menyita perhatiaan para pemain golf. Hal ini membuat kecemburuan para caddy yang lain. Saat menjadi caddy, penghasilan resmi yang diterima Rani berkisar Rp 40 ribu, namun tips yang diterima bisa mencapai Rp 200 – 300 ribu sekali main. Pertemuan Rani dengan Zul, panggilan akrab Nasrudin Zulkarnaen, bermula dari lapangan golf. Saat itu Rani menjadi caddy di Padang Golf Modern, Kompleks Modernland, Pinang, Tangerang. Dari pekerjaan inilah Rani mengenal Nasrudin Zulkarnaen, yang sejak tiga tahun lalu menjadi member di Padang Golf Moderland. Di kalangan caddy di Modernland, Rani merupakan primadona di tempat golf tersebut.
Berkat wajahnya yang manis dan pembawaannya yang luwes, ia menjadi caddy favorit, terutama saat para pejabat bermain golf. Sebagian besar pejabat tersebut akan mem-booking Rani sebagai caddy. Padahal tips untuk Rani tidak bisa dibilang murah. Untuk sekali putaran, setiap pegolf harus merogoh kocek Rp 1 juta hingga Rp 3 juta rupiah. “Rani itu bisa dibilang caddy termahal,” ujar teman seprofesinya sebut saja Ita, bukan nama sebenarnya. Tugas Rani sebagai caddy adalah memandu golf di lapangan. Profesi menjadi caddy ini dilakoni oleh putri pasangan Endang M Hasan dan Kuswati ini selama dua tahun. Lalu ia berpindah ke bagian marketing.
Namun pada tahun 2006 Rani berhenti bekerja di Padang Golf. Rani yang juga memiliki nama samaran Tika ini kemudian dinikahi oleh Zul. Karena itu Rani kerap menjadi musuh di kalangan caddy. Meski tidak ditunjukkan secara real, para temannya tetap menjaga profesionalisme dalam bekerja. Setiap mendapatkan uang banyak atau pun sedikit, Rani selalu bilang kepada orangtuanya. Dari pekerjaan itulah, Rani bisa membantu keluarganya. “Karena kakak-kakaknya sudah pada pisah dan tinggal sendiri-sendiri,” aku Neneng sang tetangga rumah.
Dari pihak manajemen golf tidak melarang caddy-nya mendapatkan tips. “Pendapatan kita yang besar memang di tips,” terang Ita. Ada rumor bahwa caddy bisa di-booking, Ita hanya bisa menjawab bahwa semuanya itu bisa terjadi apabila ada kesepakatan di antara keduanya. “Itu tergantung orangnya masing-masing. Biasanya kalau sudah di luar jam kerja sih urusannya lain,” tambahnya. Untuk Rani, kemungkinan dia pandai mendekatkan diri pada para player (sebutan pemain golf, red) atau pandai membuat senang para player. Jadi jangan heran apabila Rani bisa dekat dengan para petinggi-petinggi tersebut. “Kalau sudah di lapangan sih, pinter-pinteran kita saja biar dapat tips banyak,” imbuhnya. Dengan seringnya Rani diminta untuk menjadi caddy-nya Nasrudin, selama itulah mereka melakukan pendekatan dan saling mengenal lebih jauh.
Nikah Siri. Hubungan Rani dan Nasrudin akhirnya makin akrab hingga keduanya dikabarkan menikah siri sejak berkenalan di lapangan golf tersebut. “Para tetangganya sempat dikabari ibunya, bahwa Rani telah menikah secara siri dengan seorang pilot,” ujar Neneng. Para tetangga mengenal sosok suami Rani dengan nama Zul bukan Nasrudin. Anehnya, usai menikah, Rani tetap tinggal di rumah keluarganya. Sedangkan Nasrudin hanya datang rata-rata 3 kali seminggu. Itu pun tidak menginap. “Om Zul nggak pernah nginap di rumah Rani, dia kalau datang ke rumah Rani hanya untuk jemput saja tapi tidak tahu nginapnya di mana. Bahkan dulu waktu selesai resepsi pernikahan, dia langsung pergi. Bilangnya sih mau terbang,” tambah Neneng.
Saat Rani menikah dengan Nasrudin, menurut Neneng tidak banyak orang yang diundang. “Kalau nggak salah dengar cuma 20 orang saja. Salah satunya pak RW setempat,” katanya. Yang diundang hanya tetangga samping rumahnya saja, bahkan ketua RT-nya saja tidak diundang. Dari pihak Nasrudin sendiri tidak ada satu pun keluarga maupun koleganya yang datang. Nasrudin hanya datang seorang diri.
Saat melangsungkan penikahan, Nasrudin memberikan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan uang tunai sebesar Rp 7 juta. “Mas kawinnya hanya itu,” ujar Parno Sonjaya, saksi pernikahan siri itu. Menurut Parno, akad nikah dilakukan pukul 8.00 pagi dan bapaknya Rani yang langsung menikahkan.
Sebagai suami, Nasrudin benar-benar memanjakan istri sirinya ini. Setelah menikah, Rani tidak boleh bekerja sebagai caddy dan memberinya pekerjaan di salah satu perusahaan milik Nasrudin dengan posisi manager. Sayang, tidak lama dan Rani memutuskan untuk berhenti. Rani lantas melanjutkan kuliah atas biaya Nasrudin di Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer Rahardja, Cikokol, Tangerang. Namun juga tidak lama. Baru satu semester, Rani sudah tidak pernah terlihat lagi di kampus. Rani juga tidak terlalu akrab bergaul dan tidak ada satu pun temannya yang diberikan nomor HP. Teman-temannya hanya tahu, Rani anak orang kaya karena selalu diantar sopir pulang-pergi kampus.
Sebelum menikah dengan Nasrudin menurut Neneng, keluarga Rani tergolong biasa-biasa saja namun kehidupan keluarga Rani berubah drastis setelah Rani menikah dengan Nasrudin. “Sejak menikah dengan Nasrudin gaya hidup ibunya berubah seperti pakai pakaian yang bagus dan Rani sering gonta ganti handphone,” ungkap Neneng lagi.
Rani dikenal di lingkungannya sebagai anak yang kuper (kurang pergaulan), hampir tidak ada teman seusianya baik teman pria maupun wanita yang bergaul dengannya. “Rani itu tidak pernah bergaul sama anak-anak sini, kebanyakan teman-temannya dari luar daerah sini,” tambah Een.
Tinggal Nomaden di Apartemen. Sejak kasus kematian Nasrudin mencuat, tiba-tiba saja Rani dan kedua orangtuanya hilang tak berjejak. Begitupula dengan Erwin dan Eeng, kakak Rani yang tinggal tak jauh dari rumah Rani. Sampai saat ini keberadaan Rani dan keluarganya masih simpang suir, ada yang bilang diamankan oleh polisi di sebuah aparteman dan ada pula yang bilang Rani sembunyi di rumah kakeknya di Serang. Menghilangnya Rani dan keluarga diduga kuat terkait dengan tewasnya Nasrudin.
Terbunuhnya Nasrudin bagi tetangga Rani tentu merupakan berita yang sangat mengejutkan. Pasalnya, wajah Nasrudin yang diberitakan di media sangat familiar terutama di kalangan warga dan tetangga. Mereka pun mengetahui sosok Nasrudin hanya sebagai seorang pilot. “Saya benar-benar kaget kalau om Zul itu ternyata Nasrudin seorang direktur,” ungkap Neneng.
Lanjut Neneng, Rani sekeluarga meninggalkan rumah sejak Senin 16 Maret 2009 malam. “Selasa pagi rumah Rani sudah kosong. Nggak ada pesan apa-apa,” ujarnya. Sementara itu, Rani telah lebih dulu meninggalkan rumah. Sejak itulah rumah tersebut tanpa penghuni hingga sekarang. Tambah Neneng, sebelum mereka pergi, ada segerombolan pria dengan dua buah mobil datang dan membawa mereka. “Nggak tahu itu siapa,” ucapnya singkat.
Namun selang seminggu, Neneng mendapat kabar dari kakaknya Rani bahwa Rani dalam keadaan sehat dan senang. Begitu juga dengan kedua orangtuanya. Rani tinggal di sebuah ruangan yang mewah bak hotel atau apartemen. “Saya dikasih tahu rekaman video yang isinya ruangan mewah dan ada Rani sedang makan sambil tertawa-tawa. Kelihatannya senang banget tuh anak. Terus ke mana-mana Rani selalu dikawal 7 orang berbadan tegap,” paparnya.
Keberadaan Rani sekeluarga memang hanya pihak kepolisian saja yang mengetahuinya. Rani selalu berpindah-pindah tempat tinggal apabila sudah tercium keberadaannya. Hingga sekarang Rani masih dalam pencarian wartawan bukan kepolisian. Ardi, Doel
Side Bar:
Pendapatan yang Minim Memunculkan Caddy Plus
Santernya pemberitaan kasus penembakan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen beberapa hari terakhir ini yang menyeret nama Rani Juliani mantan caddy di Padang Golf Modern, Kompleks Modernland, Pinang, Tangerang membuat profesi caddy ini mendapat stigma miring. Seperti apakah profesi caddy, hingga profesi itu menjadi tercemar namanya?
Dalam olah raga golf keberadaan seorang caddy memang sangatlah penting. Semula, profesi caddy hanya dijalani oleh pria. Caddy bertugas antara lain membawa peralatan golf, mengemudikan mobil golf, mencari posisi jatuhnya bola, melindungi pegolf dari terik matahari dengan menggunakan payung. Dan kadangkala, bagi caddy yang memiliki jam terbang tinggi juga mampu memberikan pelatihan kepada pemain golf pemula. Guna memberikan servis yang baik, maka untuk menjadi seorang caddy diperlukan fisik yang kuat. Karena harus membawa peralatan golf yang berat di bawah terik matahari atau hujan, sambil berjalan kaki.
Seiring dengan perkembangan zaman dan trik marketing, sekarang kebanyakan caddy adalah wanita, sebab wanita dianggap lebih luwes menangani klien dan komplain. Selain juga untuk menarik minat pegolf agar datang kembali. Alasan lain, saat ini persaingan bisnis antar klub-klub golf makin ketat sehingga pihak pengelola klub golf berlomba-lomba menggaet para pengunjung golf (golfer) dengan berbagai kiat bisnis. Seperti fitness center, lapangan tenis, sauna, lounge areas, dinning room, kolam renang, meeting room, dan lain sebagainya.
Di antara fasilitas pendukung tersebut, tak dapat dipungkiri kehadiran para caddy wanita di lapangan golf (golf court) yang dipekerjakan oleh para pengelola golf court menjadi ujung tombak untuk menggaet para golfer agar menjadi membership tetap di klub golf. Seorang caddy itu ibarat bunga berjalan. Mereka harus terus terlihat cantik dan menawan meski kerja di lapangan golf. Karena itu, banyak pengelola klub golf menyulap penampilan para caddy-nya menjadi menarik hingga seksi. Namun tidak semua caddy berpakaian seksi, ada juga pengelola golf court yang tidak mewajibkan para caddy berpakaian minim. “Yang penting terlihat enerjik, ceria, dan atraktif,” ujar salah satu pengelola golf court di Jakarta.
Meski demikian banyak fakta ditemukan caddy plus. Salah seorang sumber realita menyebut istilah hole 19, yaitu caddy yang dapat menemani tamu sehabis bermain golf. “Selain memayungi para pemain, kami juga kerap ngobrol dan bercanda dengan mereka. Pokoknya men-servislah. Dari ngobrol dan bercanda itulah, kadang-kadang timbul rasa saling suka antara pemain dan caddy-nya. Setelah itu, lanjutnya, biasanya para pegolf yang umumnya orang-orang berduit itu mulai saling tukar nomor handphone. “Sudah itu, ya biasanya janjian,” ungkapnya. Hal yang demikian di kalangan caddy sudah menjadi rahasia umum. “Kalau ada yang jadi wanita simpanan itu bukan rahasia lagi, tapi tidak semua caddy bisa diajak untuk kencan,” tambahnya singkat.
Masih menurut sumber realita, menjadi seorang caddy tidaklah ringan. Sebab untuk menuntaskan 18 hole, berjalan kaki. Jauhnya kira-kira setara dengan tujuh sampai dengan delapan kilometer sedangkan penghasilan yang diterima tidaklah sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Minimnya uang yang diterima kadang membuat sebagian caddy bersikap lembut dan kadang menggoda para pemain untuk mendapatkan uang tips. “Kalau jadi caddy itu dibayar berdasarkan komisi. Jadi kalau hari ini nggak masuk ya nggak dapat duit. Penghasilan tambahan para caddy hanya dari uang tips setiap pemain golf,” ujarnya.
Olahraga golf termasuk olahraga yang mahal, maka tak heran kebanyakan para penghobi olahraga ini kebanyakan pengusaha dan para pejabat negara. Sebagai contoh, seorang pengunjung golf pada hari biasa dikenakan biaya Rp 200.000 - Rp 300.000, dan pada akhir pekan Rp 600-700 ribu sekali main untuk 18 holes. Sementara itu biaya individual membership mulai dari Rp 35 - 150 juta per tahun.
Angka nominal tersebut tidak sebanding dengan apa yang caddy dapatkan. Jangan heran apabila ada beberapa orang caddy yang mulai merangkap menjadi caddy plus. “Kalau dari pendapatan resmi ya pasti kurang dan nggak sebanding. Makanya ada beberapa orang caddy yang bisa plus. Tapi nggak semua, tergantung dari merekanya masing-masing,” ungkapnya. Ardi, Doel
Red Crispy Bisnis Masa Depan
Tak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu hujan, siang itu Selasa (16/12) langit kota Jakarta tampak cerah. Tak ada sapuan mendung sedikit pun. Kala itu Realita sengaja menyambangi Kantor Pusat Red Crispy yang terletak di Jl. Unta Raya No 9. Gapura Menteng, Bintaro, Tangerang. Bangunan kantor Red Crispy sangat kontras dengan bangunan sekitarnya. Bangunan yang begitu Asri itu didominasi warna orange. Di ruangannya, Gatot Sutoto, Owner Red Crispy, telah menunggu kedatangan Realita. Gatot, begitulah ia kerap disapa oleh rekan dan koleganya. Boleh dibilang ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang sukses dalam mengembangkan Bisnis Fast Food Fried Chicken. Bayangkan saja, di saat menjamurnya bisnis Fried Chicken franchise luar negeri yang tentunya memiliki brand cukup terkenal, dengan percaya diri Gatot pun mengembangkan bisnis fried chicken-nya.
Berkat keuletan dan kepandaian dalam meramu bumbu-bumbu fried chicken, membuat produknya bisa bersaing dengan fried chicken dari luar negeri. Apalagi bumbu racikannya juga sangat sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Sekadar menengok ke belakang, pria kelahiran 24 Desember 1954 ini merupakan anak kedua dari lima bersaudara pasangan suami istri Sutomo (alm) dan Sulastri (almh). Almarhum ayah Gatot adalah seorang tentara angkatan darat yang punya adil dalam kemerdekaan negara Indonesia, sedangkan ibunya seorang pedagang batik di Solo. Dengan latar belakang orang tuanya yang sangat kontras itu, membuat Gatot tumbuh menjadi orang yang disiplin dan jujur. Pendidikan Gatot sendiri ditempuh mulai dari SD hingga SMU di kota kelahirannya, Solo. Saat masih SMU Gatot bersama kakaknya sudah dipercaya untuk mengurusi usaha orang tuanya yaitu taksi. Dari situlah Gatot banyak belajar mengenai manajemen dan marketing. Namun setelah lulus dari SMU tahun 1976, amanat itu ia serahkan kepada kakaknya karena ia harus hijrah ke Ibukota untuk meneruskan pendidikan strata satunya di Universitas Trisakti mengambil jurusan Teknik Mesin dan juga di Universitas Gunadarma mengambil Ekonomi. Kuliah di dua tempat tentunya memerlukan biaya yang sangat besar. Terdorong tidak ingin membebani ekonomi orang tua. Pada tahun ke tiga kuliah, Gatot mulai mencoba mencari uang sendiri dengan menjadi broker mobil. ”Saya ambil bisnis ini karena saya melihat peluang yang sangat besar dari teman-teman saya yang sering gonta-ganti mobil. Selain itu juga bisnis ini tidak menyita banyak waktu sehingga tidak mengganggu kuliah,” ungkapnya. Rupanya Gatot sangat jeli menangkap peluang usaha di sekitarnya. Banyak sekali kawan-kawannya yang kemudian mengorder mobil kepadanya. Dengan demikian ia pun bisa meraup rupiah dengan mudah. Karena sudah bisa mencari uang sendiri, Gatot pun tidak minta dikirimi uang lagi oleh orang tuanya. Bahkan ia justru membantu biaya kuliah adiknya. Setelah kira-kira tiga tahun berjalan, Gatot pun mulai mengembangkan usahanya dengan membuka bengkel mobil di kawasan kampus Trisakti sampai akhirnya ia diterima bekerja di Astra sebagai tenaga marketing.
Hobi Masak. Asal tahu saja, sejak kecil ternyata Gatot sangat hobi memasak. Ia kadang bereksperimen sendiri untuk meracik berbagai bumbu. Maka saat kuliah pun ia jarang membeli makanan dari warung dan seringnya memasak sendiri. Bahkan jika ada perlombaan memasak di kampus yang diadakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Gatot selalu ikut dan selalu mendapat peringkat pertama. Padahal saingannya banyak perempuan yang tiap hari memasak. Gatot sendiri merupakan tipe orang yang tidak suka bekerja dalam satu pekerjaan saja. Ia selalu penasaran di semua bidang pekerjaan. Ketika ia merasa sudah mengetahui seluk beluk pekerjaannya, ia lalu meninggalkannya untuk mencari ilmu-ilmu baru lagi. Itulah yang membuat setelah tiga tahun bekerja di Astra, Gatot lalu keluar dan masuk ke PT Pupuk Kaltim. Di Pupuk Kaltim ia bekerja sebagai teknisi mesin. Setelah lima tahun bekerja di Pupuk Kaltim (1982-1987), ia pun juga memutuskan keluar dari pekerjaannya. Padahal saat itu gajinya sudah cukup lumayan besar. “Jiwa saya itu adventurir, jadi saya tidak bisa menetap dalam satu tempat,” ujarnya. Menurut Gatot, kehidupan itu sangat nikmat manakala bekerja sesuai dengan kebebasan hati sehingga yang dikerjakan bukan lagi sebagai beban tapi sebuah kesenangan. Filosofi hidupnya itu, ia ajarkan juga kepada semua karyawannya. Setiap orang yang akan bekerja kepadanya, akan selalu ditanya, pekerjaan apa yang diinginkan dan sesuai dengan hati serta jiwanya. ”Hal ini supaya para karyawan bekerja seolah-olah sedang berlibur,” urainya. Karena baginya setiap aktivitas sehari-hari adalah menyenangkan seperti hari libur. “Kalau orang lain senang-senang menunggu hari libur pada hari Minggu, kalau saya, semua hari adalah menyenangkan dan seperti hari libur,” ujarnya. Setelah keluar dari Pupuk Kaltim dan tidak lagi bekerja, Gatot mulai merintis usaha. Usaha pertama kali yang ia rintis adalah developer perumahan. Bisnis tersebut ia lakukan lumayan lama, hampir sepuluh tahun. “Pada dasarnya saya bisnis ini hanya untuk investasi saja,” akunya. Pada tahun 1997 ketika terjadi badai krisis moneter yang menerjang hampir semua negara termasuk Indonesia, bisnis perumahan miliknya mulai mengalami kelesuan. Gatot pun beralih ke bisnis hortikultura (budidaya tanaman). Dalam bisnis ini Gatot tidak punya pengalaman dan basic sama sekali. Namun bagi Gatot itu bukan soal. “Kebetulan konsep dalam diri saya, semua pekerjaan menyenangkan dan bisa dibakati. Jadi, apa pun pekerjaannya, akan saya lakukan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya. Sejak memutuskan untuk berbisnis hortikultura, Gatot mulai mempelajari seluk beluk pertanian. Gatot pun membeli sebidang tanah dan ia kelola sendiri. Hasil dari usaha hortikulturanya ini bisa ia ekspor sampai ke Singapura. Sayangnya bisnis tersebut tidak bertahan lama. Dalam perjalanannya, bisnis tersebut mengalami berbagai kendala dan hambatan. “Pertanian itu sulit sekali, terutama lahannya. Lahan kita ini sudah terkontaminasi dengan pestisida. Jadi banyak sekali hama yang sulit diberantas. Kendala lainnya, bagaimana menanggulangi pasar yang harganya selalu fluktuatif. Saya juga tidak bisa mengatur dan memprediksi masalah alam, kondisi pasar, dan kondisi hama. Karena sulit sekali diatasi dengan logika maka saya berhenti berbisnis ini,” ungkapnya mengenang. Apakah Gatot kapok berwirausaha setelah mengalami kegagalan? Tidak. Meski ia mengalami sedikit kerugian, tidak lantas membuatnya menyerah. Gatot pun beralih ke bisnis makanan. Bagi Gatot, bisnis makanan merupakan bisnis yang menjadi penasarannya sejak dahulu saat dinas di Amerika. Penasarannya adalah mengapa orang Barat khususnya Amerika setiap menciptakan produk, bisa dikembangkan dan dinikmati di seluruh dunia? “Saya kagum sekali dengan fried chicken-nya yang bisa menyebar ke seluruh dunia dengan hanya basic-nya ayam,” ujarnya. Karena penasaran itulah setiap kali bertugas ke luar negeri saat bekerja di Pupuk Kaltim, Gatot tidak pernah menyia-nyiakan waktu liburnya untuk belajar kursus memasak. “Kalau liburan, teman-teman saya kebanyakan dipakai untuk jalan-jalan ke mal atau pergi ke tempat rekreasi. Tapi kalau saya malah memanfaatkannya untuk ikut kursus memasak,” ungkapnya. Biasanya kalau mengambil kursus hanya satu atau dua hari. “Dari situlah saya bisa menemukan keistimewaan dan kelebihan makanan Jepang, Amerika, dan Eropa. Mulai bumbu, bahan, maupun selera dan alat yang dipakai untuk membuatnya,” akunya. Selain ikut kursus singkat memasak, Gatot juga menambah wawasan makanan melalui membaca buku-buku makanan sehingga pengetahuan tentang resep makanannya makin bertambah. Dan yang menjadi penasarannya lagi, kenapa negara Indonesia dikuasai oleh makanan asing. Padahal menurutnya Indonesia punya potensi yang luar biasa dalam bidang makanan peninggalan dari nenek moyang. Terdorong rasa nasionalisme untuk menjadi tuan di negeri sendiri itulah Gatot mulai menekuni bisnis makanan. Berbekal ilmu makanan yang diperoleh dari Amerika, ia mencoba membuat resep sendiri perpaduan antara resep Barat dan lokal. Setelah melakukan riset berbulan-bulan dengan mendalami kekayaan rempah-rempah yang ada di Indonesia akhirnya Gatot menemukan satu resep kombinasi antara Barat dan Indonesia. Setelah yakin bahwa resepnya bisa diterima masyarakat Indonesia, ia lantas menerapkannya dengan membuat fried chicken bernama Red Crispy pada tahun 2002. Pertama kali usaha, ia membuat lima unit gerobak yang dipasarkannya sendiri di pinggiran Bintaro, Tangerang, Banten. Pertama kali menjual produknya, ternyata animo masyarakat cukup besar. Setiap hari produknya selalu ludes terjual. Melihat respon pasar yang begitu besar, saat berlangsung pameran Waralaba pada November 2003, Gatot mengikutsertakan usahanya itu untuk dipublikasikan. Tak dinyana, ternyata respon pengunjung juga sangat besar. Dari situ ia mendapatkan partner usaha. Setelah usai pameran, Gatot langsung mendapatkan order pesanan sampai 50 unit gerobak. Selanjutnya, setiap tahun seiring dengan pamornya yang semakin naik, orang yang ikut menjadi mitra usaha juga semakin banyak. “Setiap tahun rata-rata sekitar 100 orang yang ikut bergabung di bisnis fried chicken saya ini,” akunya. Hingga saat ini ada sekitar 300 outlet lebih yang tersebar di seluruh Indonesia. Berkat keuletan dan kegigihan Gatot dalam membangun usahanya, kini ia mengalami perkembangan yang pesat. Gatot juga selalu menambah menu-menunya. Tidak hanya fried chicken saja yang ia jual, makanan lokal seperti bakso, roti bakar, serabi, nasi goreng sampai dengan gado-gado, juga dijualnya. Melesatnya perkembangan usaha fast food milik Gatot, membuat usahanya bisa disejajarkan dengan produk-produk franchise fast food dari luar negeri.
Berbagi. Meski begitu, kesuksesan yang berhasil diraih Gatot saat ini tidak lantas membuatnya lupa diri. Ia sadar bahwa keberhasilannya dalam mengembangkan bisnis makanan fast food, selain dari kerja kerasnya juga tidak terlepas dari tangan-tangan Tuhan yang bermain di dalamnya. Untuk itu, ia pun tak lupa berbagi dengan kaum dhuafa dan anak yatim piatu sebagai rasa syukur atas limpahan karunia yang telah diberikan. “Saya selalu menyisihkan sebagian pendapatan untuk kegiatan sosial,” ujarnya. Dalam memberikan santunan, ayah tiga anak ini lebih mengutamakan daerah tempatnya tinggal yaitu di sekitar Bintaro. “Di sini ada tiga tempat yayasan anak yatim piatu. Jadi saya lebih mengutamakan yang dekat terlebih dahulu, baru yang jauh,” ungkapnya. Selain memberikan sumbangan kepada anak yatim piatu, setiap bulan puasa ia juga kerap mengadakan buka puasa bersama dengan anak yatim piatu dan bakti sosial. Kepedulian Gatot bukan hanya berbentuk pemberian bantuan materi kepada orang-orang yang membutuhkan saja, ia juga melakukan pemberdayaan kepada warga sekitar khususnya generasi muda untuk berwirausaha. Caranya adalah dengan memberikan pelatihan enterpreneurship dan bantuan usaha. “Saya sangat senang dan akan membantu kalau ada anak muda yang punya semangat untuk berwirausaha. Saat ini sudah ada beberapa anak muda daerah sekitar yang saya bantu untuk berwirausaha,” ujarnya. Tidak hanya itu, Gatot juga kerap menyambangi kampus-kampus dan sekolah untuk memberikan pelatihan enterpreneurship dan melakukan kerjasama dengan mahasiswa untuk berwirausaha. “Pelatihan dan kerjasama ini adalah bagian peduli kita terhadap dunia pendidikan,” ujarnya. Pelatihan ini bertujuan untuk mendidik mahasiswa agar mempunyai mental berwirausaha setelah lulus. “Dengan banyaknya wirausaha maka negara akan menjadi makmur,” tambahnya. Hal ini dilakukan sesuai dengan misinya yaitu membangun enterpreuner melalui sekolah dan kampus-kampus. Dalam mengarungi kehidupan ini Gatot selalu berprinsip bahwa hidup harus bermanfaat untuk orang banyak. Sehingga di setiap langkah perjalanan hidupnya, sebisa mungkin ia dapat memberikan manfaat untuk kepentingan orang banyak. Keluarnya ia dari Pupuk Kaltim dan berwirausaha di bisnis hortikultura yang akhirnya tidak sukses dan sekarang berbisnis makanan juga dalam rangka merealisasikan prinsip itu. ”Kepentingan diri sendiri harus dibuang, seminimal mungkin,” ujarnya. Tak heran dalam bisnis makanannya ini pun Gatot telah memberdayakan ratusan masyarakat.Doel
Side Bar I
“Partner bisnis saya adalah Tuhan”
Gatot Sutoto, Owner Red Crispy mengaku bisnis yang ia lakoni saat ini adalah berkat bimbingan dari Tuhan. Bisnis ini berawal dari usahanya membangun sektor pertanian. Sudah banyak para petani yang ia bantu, namun Tuhan membimbingnya untuk beralih ke bisnis makanan. Dalam berbisnis, Gatot tidak semata-mata berorientasi kepada keuntungan saja. Akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana caranya agar bisa bermanfaat untuk orang banyak dan bisa menjadi kebanggaan nasional. Oleh karena itu dalam menjalankan bisnisnya, Gatot selalu memberikan produk yang terbaik dan berkualitas kepada masyarakat. Sekadar diketahui, bisnis fried chickennya adalah satu-satunya di Indonesia dan dunia yang menggunakan ayam organik. Sehingga bisa dipastikan terbebas dari antibiotik dan zat kimia yang membahayakan tubuh. Begitu juga dengan pengolahannya yang masih menggunakan tenaga manusia sehingga kebersihannya cukup terjamin. Kualitas dan Kesehatan bagi Gatot merupakan harga mati dalam menjalankan bisnis makanan. “Saya menjalankan bisnis ini dengan hati dan bisnis dengan hati adalah bisnis dengan Tuhan. Jadi partner saya yang sesungguhnya adalah Tuhan,” ujarnya. Dengan berprinsip seperti itu, Gatot tidak pernah takut mengalami kerugian. Baginya, kalaupun rugi dalam berbisnis adalah biasa. Baginya kalaupun ada kesulitan atau goncang dalam berbisnis maka bukan Tuhan yang disalahkan tapi dirinya. Gatot mengaku selama menjalani bisnis ini sering mendapat keajaiban secara mendadak. “Kalau lama tidak ada order, saya berdoa untuk diberi aktivitas. Tiba-tiba saja ada yang telepon untuk dibuka usahanya. Ini sering kali terjadi tanpa saya harus mempresentasikan. Luar biasa,” ujarnya. Doel Jika anda tertarik ingin mengembangkan Bisnis Red Crispy ini. Silahkan hubungi : 021-99334226
Ki Wongso
Kontraktor yang Memberikan Pengobatan Alternatif Sebagai Sarana Ibadah
Lewat therapi doa, pemijatan, dan jamu godok, banyak sudah pasien yang ditolong oleh Ki Wongso. Kontraktor yang juga memiliki bidang usaha lainnya ini mengaku kalau semua itu dilakukannya dalam rangka ibadah. Tak heran, meski tidak mematok tarif, uang yang terkumpul dari padepokannya tersebut, seluruhnya disumbangkan untuk kaum dhuafa. Penyakit apa saja yang bisa disembuhkannya?
Barangkali terlihat kontras. Di pojok belakang kompleks perumahan Bintaro Jaya yang megah, tepatnya di Jl. Kasuari Raya Sektor IX Bintaro Jaya, Tangerang, terdapat sebuah padepokan dengan bangunan sederhana. Itulah padepokan Ki Wongso. Dari namanya mungkin Anda membayangkan, penghuninya adalah seorang kakek tua, berpakaian serba hitam, berambut panjang terbalut kain sorban hitam, berkumis, dan berjenggot panjang. Kemudian duduk bersila di depan berbagai sesaji dan asap dupa yang mengepul.
Anda pasti keliru. Pasalnya, padepokan tersebut justru dipimpin oleh orang muda bergaya macho yang kalau dilihat dari ketampanannya, justru lebih cocok sebagai pemain sinetron dibanding sebagai pemberi jasa pengobatan alternatif. Dialah Wongso Sydharta, yang oleh banyak teman dan pasiennya sering dipanggil Wongso atau Ki Wongso. Jadilah nama itu sebagai trade-mark-nya. Kontraktor yang juga menggeluti berbagai bisnis ini membuka padepokan sebagai aktivitas sosial dan bagian dari ibadahnya. Ki Wongso sendiri gampang tersentuh dan langsung merasa iba jika mendengar ada orang yang sakit berkepanjangan, sudah menghabiskan banyak biaya, tetapi harapan untuk sembuh tak juga kunjung datang.
Keturunan Joko Tingkir. Ki Wongso sendiri mengaku kalau dirinya masih memiliki darah keturunan dari Joko Tingkir. Berdasarkan legenda, semasa hidupnya, Joko Tingkir memang dikenal sebagai orang yang mempunyai ilmu kedigdayaan yang tak tertandingi oleh siapapun. Tak heran, sebagai keturunannya, Ki Wongso mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang kebanyakan terutama dalam hal menguasai ilmu pengobatan tradisional. Apalagi sejak kecil Ki Wongso juga memiliki jiwa menyenangi warisan nenek moyang baik dalam urusan rohaniyah maupun badaniyah. Sejak masih berusia 20 tahun, Ki Wongso sudah mengasah bakatnya melalui pendalaman ilmu tenaga dalam dan spiritual di sebuah padepokan persilatan di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Diakuinya, ilmu yang diperolehnya saat itu sangat membantu dalam proses penyembuhan pasien-pasiennya sekarang.
Pengobatan yang dilakukan Ki Wongso sesungguhnya adalah penyembuhan alternatif berbasis alam, dengan andalan jamu godok, pemijatan, dan motivasi berdoa sesuai agama masing-masing pasien. Yang datang untuk berobat ke padepokan Ki Wongso memang sangatlah beragam. Tidak terbatas pada orang tertentu saja, tetapi juga dari berbagai kalangan baik kalangan atas maupun kelas menengah ke bawah. Kebanyakan pasiennya adalah para penderita penyakit yang sudah cukup lama dan sudah lelah dengan pengobatan modern.
Therapi Doa. Doa merupakan sarana komunikasi antara seorang hamba dan pencipta-Nya. Dengan berdoa, segala permasalahan yang ada akan menemukan jalan keluarnya. Karena kekuatan doa itulah Ki Wongso berkeyakinan bahwa segala macam penyakit yang menimpa manusia pasti akan sembuh kalau manusia tersebut bersunguh-sungguh berdoa. “Semua penyakit datangnya dari Tuhan dan Tuhan pasti memberikan penawarnya,” ujar Ki Wongso.
Dalam therapi doanya, biasanya Ki Wongso akan terlebih dahulu menanyakan nama lengkap pasien dan ayah pasien. Kemudian Ki Wongso memanjatkan doa dan menerapi pasien dengan pijatannya. Ki Wongso sendiri mengaku akan lebih suka dengan pasien yang terus terang mengenai penyakit yang dideritanya. Meski sebenarnya Ki Wongso sendiri tahu apa penyakit yang sedang diderita si pasien saat datang.
Selain dengan therapi doa, Ki Wongso juga menggunakan therapi pemijatan. Ia pun menjelaskan bagaimana pentingnya pemijatan untuk tubuh manusia. Menurutnya, pemijatan sebagaimana kerokan, urut, sekop, pijat refleksi, tusuk jarum, totok, “kepretan”, setrum, berendam air panas dan dingin, dan lainnya, tak beda dengan olah raga sesungguhnya. Pada dasarnya merupakan shock-therapy kepada tubuh manusia yang berfungsi untuk membuat kejutan pada urat syaraf yang melemah, peredaran darah yang tersumbat, kumpulan urat-urat syaraf yang melemah, kumpulan urat-urat yang pindah, dan lemak yang membeku, yang semuanya itu disebabkan oleh tegangnya metabolisme tubuh karena racun yang ada di dalamnya. Dengan shock therapy, diharapkan terjadi sistem motorik yang akan merangsang dan menggerakkan fungsi-fungsi organ tubuh tersebut kembali bergairah. “Itulah sebabnya orang yang usai dipijat atau sepulang dari spa, akan merasa segar kembali karena saluran-saluran darahnya terbuka oleh pijatan, atau mengembang karena berendam di air yang panas yang menyebabkan aliran darah lancar kembali,” ujarnya.
Bagian yang dipijat pun pastinya dipusatkan pada bagian tubuh yang dirasakan paling terganggu. Menurut Ki Wongso, untuk pasien yang terserang stroke sehingga tidak lancar bicaranya, akan dilakukan pemijatan di lidahnya sehingga bisa berbicara normal kembali. “Nah, di samping pemijatan sebagai proses awal, kesehatan akan lebih lestari kalau diikuti dengan penghancuran toksin dari tubuh dengan minum jamu godok secara berkesinambungan,” tambahnya.
Membuang Racun. Penyakit itu sendiri menurut Ki Wongso bermula dari sampah makanan yang karena terlalu banyak dimakan dalam kurun waktu yang lama menjadi racun (toksin). Racun ini menempati berbagai bagian dari usus sebagai sistem pencernaan makanan yang utamanya terpusat di usus besar (kolon) yang panjangnya lebih kurang 10 meter, berlipat, dan berlekuk-lekuk, sehingga sangat berpotensi untuk menghambat pembuangan racun. Oleh karenanya harus dibuang atau dilakukan detoksifikasi. Setelah didetoksifikasi, makanlah sekadarnya saja yaitu berhenti sebelum kenyang. Yang dimakan pun jangan terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia seperti vetsin atau MSG, bumbu-bumbu penyedap, bahan pengawet makanan seperti formalin, bahan pewarna, dan lain sebagainya. Bahkan Ki Wongso juga mengatakan, proses produksi makanan pun bisa membawa bahan-bahan yang sesungguhnya kurang baik bagi tubuh kita seperti tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia dan bukannya pupuk kandang, atau ternak yang dibesarkan secara cepat dengan memberikan obat-obatan tertentu. “Sebaiknya kita back to nature atau kembali ke alam,” tegas Ki Wongso.
Mengingat di zaman sekarang ini dimana kita sudah terkepung dengan makanan-makanan seperti itu. Untuk menghindarinya memang tidak mudah. Ki Wongso pun mengingatkan tentang kepandaian nenek moyang dahulu yang melakukan antisipasi masuknya bahan-bahan tak berguna ke dalam tubuh dengan rutin meminum jamu godok. Dengan jamu tersebut, sisa-sisa makanan segera rontok dan keluar dari usus besar. Dengan antisipasi seperti itu, terbukti nenek moyang kita dahulu sehat dan panjang umurnya. Banyak di antara mereka yang mencapai umur di atas 90 tahun. Lain halnya dengan zaman sekarang dimana rata-rata orang hanya sampai berumur 63 tahun.
Menurutnya, jamu bukanlah obat, melainkan makanan pencegah bersemayamnya racun di dalam tubuh. Ramuan yang dibuat Ki Wongso sendiri terdiri dari akar-akaran, dedaunan, biji-bijian, dan bagian dari batang berbagai jenis pepohonan serta rempah-rempah yang sejak zaman nenek moyang telah diyakini memiliki khasiat. Ramuan buatan Ki Wongso bisa merontokkan racun-racun penyebab berbagai penyakit seperti batu ginjal, polip, gondok, kista, miom, amandel, tumor, kanker, kelenjar getah bening, rheumatik, maag, diabetes, bahkan stroke.
Orang yang datang berobat ke Ki Wongso, biasanya hanya cukup datang sekali. Jarang sekali pasien datang sampai dua kali, kecuali penyakitnya memang sangat parah seperti kanker, tumor, dan stroke. Semua pasien Ki Wongso juga selalu diberi oleh-oleh jamu godok cap timbangan untuk merontokkan penyakit yang diderita setelah ditherapi doa dan pijit. Seperti yang pernah dialami oleh seorang pasiennya yang bernama ibu Hindun. Ia menderita penyakit komplikasi yaitu kanker payudara yang sudah pecah, diabetes, rheumatik, dan ginjal. Menurut Ki Wongso, ibu Hindun sudah mengeluarkan puluhan juta rupiah untuk mengobati penyakitnya. Karena tidak sembuh-sembuh, ia pun pasrah dengan penyakitnya hingga akhirnya bertemu dengan Ki Wongso. Oleh Ki Wongso, bagian yang sakit dipijat dan diberi segelas air putih yang sudah didoakan. Selain itu, ibu Hindun juga diminta untuk meminum jamu godok. Setelah dua bulan, penyakitnya mulai hilang dan kini sudah sembuh.
Asal tahu saja, Ki Wongso juga sering mendapat pasien yang berasal dari dokter. Para pasien tersebut datang ke padepokannya karena ingin merasakan pengobatan alternatif.
Tidak Mematok Tarif. Dalam mengobati pasiennya, Ki Wongso tidak mematok biaya, karena tujuan Ki Wongso semata-mata hanyalah ibadah untuk mencari keridhoan Allah. Menurutnya, orang hidup di dunia haruslah seimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Ki Wongso sendiri hanya menyediakan sebuah kotak bagi pasien yang ingin memberi tanda terima kasih dan itu terserah si pasien mau memasukkan berapapun. Sebab, uang yang terkumpul tersebut tidak untuk dirinya melainkan untuk disalurkan kepada yatim piatu dan kaum dhuafa yang lebih membutuhkan. Doel
Side Bar:
Airlangga Heri Herman (59)
Dalam Satu Minggu, Kadar Gula Diabetesnya Turun Drastis
Sekitar tahun 2001, Airlangga Heri Herman atau yang biasa disapa pak Heri ini menderita penyakit diabetas yang sudah cukup akut dimana kadar gulanya mencapai 375. Berat badannya yang tadinya 60 kilogram, turun drastis menjadi 40 kilogram. Penyakit diabetesnya juga telah menyebabkan badannya menjadi kurus dan tidak bertenaga. Sejak menderita diabetes ia praktis tidak melakukan aktivitas apapun. “Untuk mengemudi saja saya tidak kuat,” kenang bapak dua anak ini.
Selain diabetes, kantong kemih pak Heri juga mengalami kebocoran. Sudah berbagai pengobatan modern dicoba termasuk ke Rumah Sakit International Bintaro. Namun penyakitnya tak kunjung sembuh juga. Suatu saat istrinya menyarankan untuk berobat alternatif ke padepokan Ki Wongso. Pak Heri pun mendatangi padepokan Ki Wongso untuk ditherapi. Oleh Ki Wongso, ia ditherapi doa dan pijit. Setelah itu, pak Heri diberi jamu godok cap timbangan untuk diminum dua kali sehari. Ia juga disarankan untuk selalu melaksanakan shalat lima waktu dan hidup normal.
Setelah mengikuti semua saran Ki Wongso, satu minggu kemudian kondisinya mulai membaik. Penyakit diabetesnya juga turun menjadi 150. Pak Heri sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ki Wongso. “Saya tidak bisa membayangkan nasib saya kalau tidak bertemu Ki Wongso,” ungkap suami Endang Merti Ningsih ini. Doel
Kamis, 18 Desember 2008
Dwi Ryanta Soerbakti, MBA.
Dwi Ryanta Soerbakti, MBA., Managing Director Lorena Group
Memilih Untuk Memberikan Kail Bagi Masyarakat Tidak Mampu
Sukses mengantarkan Lorena Group sebagai salah satu perusahaan transportasi terbesar di Indonesia, ternyata tidak membuat Dwi Ryanta Soerbakti lupa diri. Ia justru memiliki kepedulian sosial terhadap nasib masyarakat yang kurang mampu. Melalui perusahaan keluarga yang dibesarkannya itulah, Ryanta (sapaannya, red) kerap memberikan kail kepada orang yang tidak mampu sebagai sarana untuk memberdayakan ekonomi lemah. Seperti apa bentuk kepedulian sosial ayah dari dua anak ini?
Seperti hari-hari di penghujung Minggu pada biasanya, situasi jalan raya di Ibukota tak begitu ramai. Begitulah situasi yang tampak saat Realita menyusuri jalan di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada Sabtu (22/11). Awan mendung yang menggelayuti langit Ibukota membuat hawa siang itu tak terlalu panas. Namun, situasi jalan yang sepi tampak kontras saat Realita menginjakkan kaki di halaman sebuah Pool bus yang terletak di Jl R.A Kartini No. 16, Jakarta Selatan. Lorena, begitulah tulisan yang terdapat di plang di depan pool bus tersebut. Halaman pool yang cukup luas itu diisi oleh beberapa buah bus yang datang silih berganti. Ya, siang itu, Realita memang akan bertemu dengan sang Managing Director Lorena Group, Dwi Ryanta Soerbakti.
Seorang wanita muda berparas cantik langsung menyambut kedatangan Realita. “Hallo dari Realita ya? Silakan masuk. Tapi tunggu sebentar ya, saya panggilin dulu bapaknya,” ujarnya ramah sambil menjabat tangan Realita. Wanita yang tak lain adalah Rima Lesmanawati, sekretaris sang Managing Director tersebut mengajak masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup nyaman. Rima pun langsung memperkenalkan Realita dengan sang Managing Director, Dwi Ryanta Soerbakti.
Ryanta, begitu ia kerap disapa, adalah lelaki muda yang tampak selalu bersemangat dan sosok yang sangat menyenangkan. Tak jarang, beberapa kali obrolan kami harus terhenti karena gelak tawa. Meski duduk sebagai salah satu pejabat penting di Lorena Group, namun penampilan Ryanta jauh dari kesan formal. Ia hanya mengenakan kaos berwarna hitam dengan celana panjang warna senada. Meski masih berusia 36 tahun, namun prestasi yang dihasilkannya tak dapat dipandang sebelah mata.
Generasi Kedua. Ryanta terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan GT. Soerbakti dan Kariany K. Sembiring. Ayahnya adalah seorang perwira di Angkatan Darat. Sebagai anak seorang tentara, Ryanta selalu hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti tugas sang ayah. Dari situlah Ryanta belajar bagaimana beradaptasi dengan cepat terhadap situasi yang selalu berubah-ubah. ”Dengan seringnya berpindah-pindah saya jadi cepat belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru,” ujarnya mengurai senyum. Ryanta sendiri merupakan anak laki-laki satu-satunya. Namun sebagai anak laki-laki satu-satunya tidak lantas membuat orang tua Ryanta memberikan fasilitas lebih ataupun memanjakannya. ”Bagi orang tua saya, kedisiplinan itu merupakan nomor satu, jadi meski sebagai anak laki-laki satu-satunya saya tidak pernah dimanja,” akunya. Berkat nilai-nilai disiplin yang ditanamkan sejak kecil, kini Ryanta tumbuh menjadi sosok yang ulet dan mandiri.
Pria kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1972 ini menamatkan pendidikan SD hingga SMU-nya di Jakarta. Sejak sekolah Ryanta sudah menunjukkan jiwa kepemimpinan di antara teman-temannya. Setelah menamatkan SMAK Tirta Marta tahun 1991, ia melanjutkan pendidikan S1-nya ke Amerika Serikat di Universitas Dayton, Ohio, mengambil jurusan Science in Business Administration. Setelah menyelesaikan S1, ia meneruskan S2 di Cleveland State University, Ohio, USA. Ryanta memang tergolong anak yang cerdas. Selama kuliah baik S1 maupun S2, IPK-nya selalu 3,5 sehingga ia bisa menyelesaikan pendidikan S2 pada umur 23 tahun.
Setelah menyelesaikan S2 tahun 1997 Ryanta tidak langsung bergabung dengan Lorena Group, perusahaan milik ayahnya namun ia bekerja di perusahaan asing sebagai Konsultan Finansial tahun 1998-2000. ”Saya mulai bekerja dari bawah sebagai junior consultan, jadi saya merasakan bagaimana sebagai bawahan dan itu merupakan pelajaran paling baik yang saya rasakan. Dan bagaimana saya bisa menjadi seorang pimpinan yang baik saat ini misalnya karena saya pernah merasakan bagaimana rasanya jadi anak buah,” ujar mantan Ketua Kompartemen Hubungan dan Kerjasama Internasional DPP Organda (Organisasi Pengusaha Angkutan Jalan Raya). Orang tua Ryanta memang mempunyai prinsip untuk tidak memperbolehkan anak-anaknya langsung bergabung dengan bisnis keluarga.
Selama bekerja di perusahaan asing, banyak sekali pengalaman yang Ryanta peroleh yang tidak didapatinya di bangku kuliah. Pengalaman itu pula yang ia terapkan dalam memimpin Lorena Group. Setelah tiga tahun bekerja dengan orang lain, barulah Ryanta diajak bergabung di perusahaan milik orang tuanya. Meski ia bekerja di perusahaan orang tuanya, tidak lantas langsung menjadi seorang direktur. Ia justru memulai karirnya dari bawah sebagai Manager Internal Audit, kemudian karirnya terus merangkak naik sebagai VP and GM Finance and Admin Lorena Group (2002- 2004), Vice President Lorena Group (2004-2007) hingga menjadi Managing Director Lorena Group. ”Setelah tujuh tahun bekerja, baru saya dipercaya sebagai Managing Director. Orang tua saya mengajarkan segala sesuatu itu tidak ada yang diperoleh dengan gratis semuanya harus diperoleh dengan kerja keras dan disiplin. Jadi karir saya menanjak di Lorena Group ini karena kerja keras bukan karena orang tua,” ujarnya berbangga. Ryanta pun berhasil membuktikan prestasinya di perusahaan keluarga dengan kerja keras sehingga tidak ada yang menganggap dirinya sebagai orang karbitan.
Ryanta merupakan generasi ke-dua di Lorena Group. Menurutnya, pada awal Lorena dirintis sang ayah pada tanggal 9 September 1970 hanya berawal dari 2 unit bus yang melayani rute Jakarta-Bogor. Nama Lorena sendiri diambil dari nama sang kakak yaitu Eka Sari Lorena br Soerbakti. Lorena berarti arah atau jalan yang baik. Rupanya nama kakaknya itu membawa hoki. Bus yang diberi nama Lorena cepat diterima dan mendapatkan kepercayaan masyarakat. Dan seiring dengan perjalanan waktu, berkat kerja keras dan ketekunan ayahnya dalam merintis usaha, Lorena pun terus berkembang dari yang tadinya melayani rute Jakarta-Bogor kini melayani jalur antar kota dan antar provinsi.
Tidak hanya itu, setelah masuk generasi kedua, Lorena juga mengekspansi usahanya di luar usaha transportasi seperti perkebunan kelapa sawit, sekuritas, properti, SPBU, kurir, logistik, dan sekarang juga sedang merintis Lorena Air. Semua bidang usaha itu bernaung di bawah payung PT Lorena Karina sebagai holding company.
Kesuksesan Lorena Group dalam berbisnis diakui Ryanta karena membuat bisnis model atau cetak biru yang bersifat, high risk (berisiko tinggi), medium risk (risiko sedang), dan low risk (risiko rendah). Seperti di-high risk ada namanya Karina Transport, Lorena Transport, dan Lorena Air, semua adalah berisiko tinggi. Lalu dibawahnya di-back up lagi dengan Sari Lorena seperti rental dan busway. Sedangkan yang low risk adalah dengan membuka perkebunan kelapa sawit dan SPBU. ”Dalam berbisnis, Lorena Group selalu mengikuti patron seperti itu. Jadi kalau terjadi sesuatu, ada yang mem-back up,” terangnya.
Memberi Kail. Keberhasilan Lorena Group dalam membangun unit usaha bisnisnya tidak lantas melupakan orang-orang di sekelilingnya. Kesuksesan yang diraih saat ini selain kerja keras Tim Lorena juga karena dukungan banyak pihak termasuk orang-orang di sekitar cabang Lorena. Makanya Ryanta selalu berbagi dengan cara menerapkan kebijakan di setiap cabang Lorena minimal 2 persen SDM-nya berasal dari penduduk lokal. ”Sistem ini kami lakukan sejak tahun 80-an. Hal ini kami lakukan agar roda ekonomi di sekitar cabang kami juga ikut tumbuh. Jangan sampai perusahaan kami maju tapi penduduk sekitar kiri kanan tidak merasakan efeknya dengan keberadaan kami di daerah tersebut,” ujar bapak dari Dante Rebuena Toman Soerbakti dan Chloe Rejilena Sofie br Soerbakti ini.
Bagi Ryanta, berbagi dengan memberikan kail seperti lapangan pekerjaan itu lebih baik daripada memberikan ikan seperti sembako misalnya. Sebab dengan memberikan kail, masyarakat bisa mengembangkan roda perekonomiannya sehingga tidak mempunyai ketergantungan kepada orang lain. ”Jika kita memberikan kail atau pancing, diharapkan mereka bisa mandiri dan tidak terbiasa menerima bantuan orang lain,” tegasnya. Kebanyakan di Indonesia, orang memberikan bantuan dengan memberikan barang atau sembako. Padahal pemberian bantuan tersebut tidak efektif, malah justru masyarakat akan mempunyai mental peminta-minta. Meski demikian bukan berarti Lorena tidak pernah memberikan bantuan sosial kepada masyarakat. Lorena Group tetap memberikan bantuan sosial namun pada hari-hari tertentu saja seperti hari raya Idul Adha. Baik di kantor pusat maupun cabang, Lorena selalu memberikan kurban kepada penduduk sekitar. Begitu pula saat Idul fitri dan Natal, Lorena memberikan bantuan kepada orang-orang yang tidak mampu. Bantuannya sendiri bisa berbentuk barang dan juga uang untuk pembangunan masyarakat.
Tidak hanya memberikan lapangan pekerjaan dan memberikan santunan kepada orang-orang yang tidak mampu, Lorena Group juga memberikan bantuan secara rutin kepada Sekolah-sekolah Dasar Negeri yang kondisinya memprihatinkan di setiap cabang. Sedangkan bentuk bantuannya sendiri berupa pembuatan perpustakaan, pembuatan kelas-kelas baru, dan kegiatan ekstrakurikuler. ”Kalau sekolah fasilitasnya lebih baik, maka sekolah bisa memberikan kualitas yang lebih baik kepada siswanya. Ujung-ujungnya adalah kualitas dari SDM kita juga akan meningkat,” jelasnya.
Kepedulian Ryanta dalam dunia pendidikan dikarenakan bagi Ryanta pendidikan merupakan kunci dari keberhasilan dalam membangun kehidupan. Baginya, maju mundurnya sebuah bangsa bisa diukur dari tingkat pendidikan di negaranya. Kalau kualitas pendidikan di suatu negara tinggi maka bisa dipastikan negara tersebut maju. Begitu pula sebaliknya. Orang tua Ryanta sendiri juga sangat menekankan arti pentingnya sebuah pendidikan. Tak heran kalau Ryanta dan saudara-saudaranya bisa kuliah sampai ke luar negeri. Ryanta juga berharap kelak anak-anaknya ketika sudah besar bisa kuliah di luar negeri.
Suami dari Vera br Lumban Tobing ini berharap dengan pemberian bantuan ke sekolah-sekolah dan pemberian lapangan pekerjaan, semata-mata agar masyarakat mempunyai kemandirian ekonomi sehingga bangsa ini cepat keluar dari krisis yang berkepanjangan. Kepedulian Ryanta dengan kegiatan sosial tidak lepas dari contoh dan ajaran sang ibu. Ibunya merupakan anggota Majlis Gereja dan sudah 18 tahun aktif di kegiatan sosial. Ryanta juga sangat percaya segala kebaikan yang ditanam maka Tuhan akan melihat dan memberikan balasan kepada kita. Doel
Christopher Emille Jayanata
Christopher Emille Jayanata, Presiden Direktur PT Pronic Indonesia
Memberikan Penyuluhan dan Obat Ternak Gratis pada Peternak
Emil sempat terkena serangan jantung yang hampir saja merenggut nyawanya saat sedang berenang. Emil merasa kejadian itu merupakan teguran agar hidupnya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Sejak saat itulah Emil bertekad mengisi hidupnya dengan sesuatu yang bermanfaat. Salah satunya adalah selalu berbagi dengan anak-anak tidak mampu.
Jumat (5/12) siang itu, matahari bersinar terik. Namun hawa panas seketika berganti sejuk saat Realita memasuki sebuah gedung berlantai 3, terletak di Jl. Pos Pengumben Graha Innova, Jakarta Barat. Gedung yang didominasi cat dinding berwarna putih itu adalah kantor pusat PT Pronic Indonesia.
Di lantai 3, Christopher Emille Jayanata, Presiden Direktur PT Pronic Indonesia yang akrab disapa Emil ini telah menunggu. ”Hallo apa kabar? Silakan masuk,” katanya ramah. Selanjutnya kami pun duduk di dalam ruang kerja Emil yang ternyata tak pernah ditutup ini. ”Karyawan adalah mitra bisnis saya. Kita semua sama di sini untuk saling membesarkan perusahaan. Dengan kata lain, saya nggak mau ada jarak dengan para karyawan saya,” begitulah alasannya.
Siang itu Emil tampak rapi dengan setelan batik cokelat lengan pendek dan celana krem. Di luar penampilannya yang tampak formal, ternyata Emil adalah sosok yang sangat menyenangkan. Nama PT Pronic Indonesia mungkin tak terlalu familiar di telinga kita. Begitu pun dengan bisnis yang ia geluti. Boleh dibilang PT Pronic adalah salah satu bisnis yang masih jarang digarap di Indonesia. PT Pronic bergerak di bidang penyediaan dan penyaluran ayam potong yang mengusung nama Probio Chicken, yaitu ayam yang dipelihara secara hygienis dengan menggunakan probiotik dan herbal. Secara singkat, PT Pronic menyediakan sejenis ayam organik yang bebas bahan-bahan yang membahayakan kesehatan.
Adalah Ir. Christoper Emille Jayanata sang penggagas bisnis ini. Kejeliannya melihat lahan bisnis yang masih jarang digarap oleh orang lain, membuat ia menjadi salah satu wiraswasta yang patut diperhitungkan. Meski begitu, sebuah pengalaman yang sempat membuatnya seakan-akan berada di titik kematian, berhasil membuat bapak dua anak ini menjadi sosok yang sangat peduli dengan orang lain. Sejak itu, ia ingin selalu berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan.
Emil lahir di Bogor pada 17 Oktober 1972. Ia anak kedua dari dua bersaudara pasangan Ir. Rabbyanto Jayanta (Alm.) dan Natalia Jayanta (63). Ayahnya merupakan angkatan pertama dari Institut Pertanian Bogor (IPB), dan ibunya angkatan ketiga IPB. Karena kedua orang tuanya adalah sarjana pertanian dan berkecimpung di dunia pertanian, maka sedari kecil Emil sudah diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan pertanian seperti menanam, memupuk, dan bahkan sampai dengan menjual hasil produknya. Pengetahuan Emil di dunia pertanian makin bertambah ketika ia bersekolah di SMA Regina Pacis Bogor jurusan Biologi. ”Pengetahuan pertanian saya menjadi bertambah ketika saya masuk di Biologi,” akunya. Namun anehnya ketika kuliah ia justru tidak mengambil jurusan pertanian, dan malah mengambil jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Parahyangan, Bandung. ”Kalau saya mengambil jurusan pertanian ya bosanlah. Kebetulan saya hobi dan punya kemampuan bisa menggambar, jadi saya mau kuatkan di landscape di pertanaman karena pertanaman ini background-nya harus dari pertanian dan punya background gambar,” jelasnya.
Ditinggal Ayah. Ternyata Emil benar-benar jeli dalam memanfaatkan kemampuannya di bidang menggambar. Bagaimana tidak? Sejak di tingkat dua saja ia sudah bisa mencari uang dengan membuat landscape pertanaman. Beruntung karena Emil sudah tidak dibiayai lagi oleh orang tuanya. Sang ayah sudah meninggal dunia sejak Emil duduk di kelas 2 SMA. Ia juga tidak mungkin meminta-minta kepada saudaranya. Mau tidak mau ia harus mencari biaya kuliah sendiri. ”Sejak tingkat 2 saya sudah banyak mengerjakan proyek-proyek pertanaman untuk biaya kuliah,” cerita Emil.
Emil pun bisa merampungkan pendidikan strata satunya hanya dalam kurun waktu 4,5 tahun. Setelah mendapat gelar insinyur pada tahun 1995, Emil mendirikan PT Essicipta Lestarai yang bergerak di landscape pertanaman dan juga sebagai lembaga konsultan yang masih berjalan hingga sekarang. Banyak proyek yang telah ia garap baik swasta maupun pemerintah. PT Essicipta Lestarai sendiri merupakan cikal bakal dari PT Pronic. Pronic singkatan dari Probiotik Organik.
PT Pronic berawal dari pertemuan Emil dengan seorang peneliti yang mengembangkan mikroba atau probiotik untuk agrobisnis pada tahun 2001. Melihat keunggulan kualitas hasil dari pertanian yang memakai probiotik ini, dengan misi untuk membantu para petani karena harganya yang murah, Emil pun akhirnnya memasarkan probiotik ini ke petani di Jawa.
Probiotik adalah program yang digunakan untuk meningkatkan kualitas makanan yang diproduksi oleh mikro organisme tertentu yang bisa meningkatkan kesehatan setiap orang yang memakannya, tanpa bahan kimia ataupun pengawet. Tapi, rupanya bisnis probiotik ini tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Di tengah perjalanan, banyak petani yang menunggak, tidak mampu membayar dan juga karena persaingan dengan obat-obatan lain yang banyak sekali. Karena uangnya macet, ia pun mengalami kerugian yang amat besar.
Rugi berbisnis di probiotik, tidak lantas membuat Emil putus harapan. Pada tahun 2004 ia banting setir dari yang tadinya menjual probiotik, diganti dengan menjual hasil dari probiotik. Namun ia hanya berkonsentrasi pada produk ayam saja. ”Selama ini saya hanya menjual obat probiotiknya saja. Sekarang saya ganti dengan menjual produk yang memakai probiotik, bekerjasama dengan para peternak ayam,” ungkapnya. Mengapa Emil memilih menjual ayam? Sebab ayam merupakan makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Khusus Jakarta saja dalam sehari bisa sekitar 1.000 lebih orang mengkonsumsi ayam. Melihat besarnya peluang bisnis ini, Emil pun mulai menekuni seluk beluk pemeliharaan ayam yang sehat sehingga tidak sampai terkena penyakit, bekerjasama dengan para ahli dari IPB.
Pertama kali menjual ayam probio, Emil hanya memasarkannya di Ranch Market saja. Maklum, kala itu ia baru bisa memproduksi sekitar 170 ekor ayam probio per bulan. Pelan namun pasti, ayam probio ini mulai dikenal masyarakat. Kalau dahulu ia mengambil dari petani dan menaruh di Ranch Market, tapi kini ia sudah mulai fokus menggarap bisnis ini dengan serius. Mulai dari management sampai marketing ia benahi total. Alhasil dari yang tadinya hanya 170 ekor per bulan kini sudah mencapai 9.200 ekor per bulan. Ayam probionya juga sudah mulai dipasarkan di Hypermarket dan Carrefour.
Dengan lonjakkan kenaikan jumlah ini menurut Emil selain karena pengelolaannya yang profesional, juga karena masyarakat sudah mulai sadar akan pentingnya arti kesehatan. Sebab, ayam probio yang ia ciptakan bebas dari bahan kimia dan rekayasa genetika. Mulai dari pengembangbiakkan ayam sejak dari benih, lingkungan, hingga pengemasan.
Dengan kesuksesan Emil mengembangkan bisnis ayam probiotik ini membuatnya terus mengembangkan makanan organik lain seperti telur organik dan sayuran organik seperti bayam, buncis, dan wortel. ”Saya punya keinginan membuat restoran yang bahan-bahannya semua dari organik,” harapnya. Keseriusan Emil dalam mengembangkan dan mempromosikan produknya karena ia ingin masyarakat Indonesia mendapat makanan yang sehat, murah, berkualitas, dan terbebas dari racun. Menurutnya, banyaknya masyarakat yang menderita kanker, stroke pada usia muda, dan autis, karena makanan yang dikonsumsi banyak mengandung zat kimia.
Untuk rasanya, ayam-ayam probio produknya tidak kalah. Lebih gurih, tidak ada lemak dan lendirnya, dan saat dimasak tidak susut. ”Kalau anak autis kan tidak boleh makan makanan yang mengandung zat kimia. Jadi ayam ini sangat bagus buat anak autis karena bebas dari zat kimia,” ujarnya.
Karyawan Sebagai Mitra. Salah satu kunci kesuksesan Emil dalam membangun usaha karena ia tidak pernah memposisikan karyawannya sebagai bawahan. Bagi Emil, semua karyawannya adalah teman seperjuangan. ”Semuanya saya anggap sebagai teman. Mereka masing-masing punya bagian disiplin ilmu sendiri yang semuanya itu sama-sama penting untuk kemajuan usaha,” ungkapnya. Emil juga selalu memberi semangat kepada semua karyawannya untuk saling bahu membahu dan memberikan kontribusi untuk kemajuan usahanya.
Di tengah kesibukannya dalam berbisnis, Emil selalu meluangkan waktu untuk membaca. Ia sangat gemar membaca sejak kecil. Menurutnya, buku merupakan jembatan untuk mengetahui berbagai informasi. Saat ini koleksi bukunya telah berjumlah 2.500 judul buku. Sedangkan buku yang paling ia gemari adalah buku-buku sejarah dan biografi.
Selain gemar membaca, kesibukan lain yang dilakukan Emil saat hari libur adalah bereneng. Ada satu kejadian saat ia berenang yang membuatnya tersadar akan sebuah makna kehidupan. Suatu saat di akhir penghujung tahun 2006 ia berenang. Emil biasa berenang sampai 4 km nonstop. Namun entah kenapa kala itu, tidak ada keluhan atau tanda-tanda sebelumnya, ketika sedang asyik berenang tiba-tiba saja ia terkena serangan jantung. Pada saat terkena itulah Emil merasa seperti koma. ”Saya merasa sakit sekali dan sepertinya kematian sudah sangat dekat,” kenangnya sambil menerawang.
Anehnya lagi, di tengah menahan sakit, tiba-tiba saja ada suara yang berkata kepadanya dan ia diberi dua pilihan, mau lewat atau terus berusaha. ”Saat itu saya memilih untuk terus berusaha,” ceritanya. Setelah Emil menjawab untuk berusaha, ia merasa seolah-olah ada orang yang membantunya berenang ke tepi. Saat sampai ke tepi, Emil tidak langsung pergi ke dokter melainkan sempat duduk-duduk terlebih dahulu di bibir kolam renang. 14 jam kemudian baru ia pergi ke dokter. ”Ini benar-benar sungguh ajaib. Biasanya orang kalau terkena serangan jantung, setelah 6 jam tidak ditangani dokter, bisa langsung lewat (meninggal, red). Tapi saya di jam ke-14 baru dirawat dan masih bisa bertahan,” ujarnya heran.
Pada saat di-rontgen ternyata dari tiga pembuluh darah utama di jantung Emil, salah satunya hilang sama sekali dan menjadi buntu sehingga hanya tinggal dua. ”Dokter bilang, kalau saya tidak suka olahraga dan menjaga pola makan, serta suka merokok, sudah lewat,” ujarnya. Dalam silsilah keluarga Emil memang ada keturunan penyakit jantung. Jadi penyakit yang ia derita adalah penyakit keturunan.
Banyak Hikmah. Sejak kejadian itu Emil mengaku banyak sekali hikmah yang ia dapat. Baginya, kejadian itu merupakan teguran agar hidupnya harus lebih baik lagi serta berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Selama ini mungkin ia terlalu mementingkan diri sendiri, egois sehingga Tuhan menegurnya. Sejak saat itu pula ia mulai serius mengelola usahanya sehingga bisnisnya terus berkembang. Kini, dari yang tadinya hanya mempekerjakan segelintir orang, karyawannya sudah berjumlah lebih banyak. ”Saya bekerja bukan untuk diri saya sendiri tapi juga untuk orang lain. Kalau saya hanya mikirin diri sendiri lama kelamaan pasti akan mentok,” ujarnya.
Dahulu ketika selesai kuliah, Emil punya satu keinginan yaitu membantu sebuah sekolah setelah bisa bekerja. ”Saya melihat sekolah itu jelek banget, tidak terurus. Dalam hati saya berkata, alangkah bahagianya kalau bisa bantu sekolah itu,” batinnya. Beberapa tahun kemudian, tiba-tiba saja ada orang datang kepadanya meminta bantuan biaya sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu di daerah Sindikalang, Sumatera Utara. ”Di situ banyak anak-anak yang sekolahnya terlantar, karena kurang biaya dan kebanyakan berasal dari keluarga miskin,” terangnya.
Mendapat permintaan seperti itu Emil pun menyanggupinya sebab dahulu ia pernah punya keinginan untuk membantu anak-anak sekolah yang kurang mampu namun niat mulianya itu belum sempat terwujud. Untuk mewujudkan impiannya yang sempat tertunda itu Emil lantas mendirikan Yayasan Orang Tua Asuh bernama Wielda Kasih agar pemberian bantuannya lebih terencana. Emil juga mengajak beberapa rekannya untuk menjadi orang tua asuh. Dalam memberikan bantuan, Emil tidak langsung memberikan ke orang tuanya tapi langsung ke pihak sekolahnya masing-masing sehingga bantuan yang diberikan bisa sampai. Adapun bentuk bantuannya berupa uang SPP, uang Osis, uang buku, dan transportasi. ”Hingga saat ini ada 70 anak yang kita bantu dari mulai SD sampai kuliah,” bebernya. Kalau dahulu yang dibantu hanya anak Sindikalang saja, tapi sekarang ada beberapa daerah lain seperti Medan, Pematang Siantar, dan Jakarta. Emil berharap anak asuhnya kelak setelah lulus, bisa membuka lapangan kerja sendiri sehingga bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Selain memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu, Emil juga sangat peduli dengan para mitra bisnisnya terutama petani. Sebab mereka adalah ujung tombak dari bisnisnya saat ini. Adapun bentuk perhatian yang dilakukan Emil adalah dengan memberikan penyuluhan gratis cara pemeliharaan ayam yang baik dan sehat serta memberikan obat secara gratis, dengan demikian risiko kematian ayam sangat menjadi sedikit sehingga dapat meningkatkan produksi usahanya. ”Dengan cara ini kesejahteraan para peternak bertambah lebih baik daripada sebelumnya karena semuanya diberikan secara gratis,” ucapnya bangga. Doel